Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Penyakit Demam Berdarah di Sleman Capai 56 Kasus di Awal Tahun, Ini Wilayah yang Paling Banyak Temuannya!

Iwan Nurwanto • Kamis, 15 Februari 2024 | 23:49 WIB
AKTIF LAGI: Isolasi terpusat Rusunawa Gemawang yang sempat kosong, kembali terisi pasien Covid-19 kemarin (20/7). Saat ini, pasien yang menempati rusunawa sudah mencacapi 10 orang.(WULAN YANUARWATI/RADAR JOGJA)
AKTIF LAGI: Isolasi terpusat Rusunawa Gemawang yang sempat kosong, kembali terisi pasien Covid-19 kemarin (20/7). Saat ini, pasien yang menempati rusunawa sudah mencacapi 10 orang.(WULAN YANUARWATI/RADAR JOGJA)

SLEMAN - Jumlah temuan kasus demam berdarah di kabupaten Sleman tergolong cukup tinggi.

Selama bulan Januari tahun ini  setidaknya sudah ditemukan 56 kasus.

Dari jumlah tersebut, 21 kasus di antaranya terkonfirmasi demam berdarah dengue (DBD).


Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman Khamidah Yuliati mengatakan, kasus demam berdarah dan DBD di Sleman tersebar di 8 wilayah puskesmas.

Dari hasil pendataan itu temuan terbanyak berada di Puskesmas Ngemplak dengan 10 kasus.


Kemudian, disusul Puskesmas Sleman dengan temuan 4 kasus, Puskesmas Pakem 2 kasus, Puskesmas Seyegan 2 kasus, Puskesmas Godean 1 kasus, Puskesmas Tempel II 1 kasus, Puskesmas Depok II 1 kasus, dan Puskesmas Depok III sebanyak 1 kasus.


Pejabat yang akrab disapa Yuli tersbut menyatakan, Dinkes Sleman sudah berkoordinasi dengan kelompok kerja (pokja) tingkat kabupaten untuk menanggulangi penyakit demam berdarah.

Upayanya dilakukan upaya pemberantasan sarang nyamuk (PSN) pada wilayah dengan temuan kasus demam berdarah terbanyak.


“Untuk fogging juga sudah dilakukan sebelumnya,” ujar Yuli saat dikonfirmasi, Kamis (15/2).


Dengan masih banyaknya kasus demam berdarah di Sleman, dia pun mengimbau agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap masifnya penularan penyakit demam berdarah.

Terlebih, saat musim penghujan seperti sekarang.


Sebab, ada kemungkinan nyamuk aedes aegypti sebagai hewan penyebar penyakit tersebut mudah berkembang biak.

Pada tahun 2023 lalu saja, jumlah temuan kasus DBD di Sleman mencapai 146 kasus. Dengan satu orang dinyatakan meninggal dunia.


“Untuk tahun ini insyaallah dan jangan sampai ada lagi kasus meninggal dunia karena DBD,” harap Yuli.


Ia menyebut, upaya mencegah penularan kasus DBD dapat dilakukan dengan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Yakni, dengan menjaga kondisi tubuh melalui olahraga dan mengkonsumsi vitamin.


Disamping itu, masyarakat pun dihimbau untuk melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Serta memaksimalkan kembali kader-kader jumantik melalui program Satu Rumah Satu Jumantik.


“Dengan berbagai upaya PHBS dan PSN harapannya dapat menekan kasus DBD,” ungkap Yuli


Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sleman Cahya Purnama mengatakan, musim penghujan memang dapatmembuat bakteri dan virus mudah berkembang biak.

Hal itu tentunya akan berdampak pada semakin masifnya penyebaran penyakit.


Sehingga, dia pun meminta agar masyarakat juga mewaspadai potensi penyakit pernapasan. Seperti batuk, pilek dan flu yang kemungkinan besar akan mudah menjangkiti masyarakat pada kondisi musim seperti sekarang.


"Yang paling pertama muncul itu adalah penyakit batuk pilek, kemudian nanti baru penyakit-penyakit yang bersumber vektor yang lain seperti nyamuk dan leptospirosis," terangnya beberapa waktu lalu. (inu)

Editor : Amin Surachmad
#demam berdarah #dinkes sleman #PSN