Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Yuk Simak Sejarah Erupsi Merapi, Terbesar 2010 dan Kesetiaan Mbah Maridjan

Dwi Agus. • Selasa, 23 Januari 2024 | 20:09 WIB

Puncak Gunung Merapi setalah erupsi di 2010
Puncak Gunung Merapi setalah erupsi di 2010

RADAR JOGJA - Erupsi eksplosif Gunung Merapi pada Minggu (21/1) tepatnya 14.12 WIB mengejutkan masyarakat sekitar lereng.

Ini karakter erupsinya berbeda dengan kejadian pada umumnya.

Selama ini erupsi Gunung Merapi didominasi efusif atau lelehan layaknya guguran lava atau awan panas guguran.

Kepala BPPTKG DIY Agus Budi Santoso menuturkan erupsi eksplosif memiliki kolom.

Namun dalam kejadian tersebut tidak terdeteksi ketinggian.

Ini karena kondisi pada saat erupsi di kawasan puncak Gunung Merapi sedang berawan dan hujan.

“Untuk kejadian yang pukul 14.12 WIB ada indikasi ke arah eksplosif. Namun karena di kategori kegempaan di laporan MAGMA tidak ada kategori erupsi, sehingga kami klasifikasikan menjadi letusan. Tercatat memiliki amplitudo 70 milimeter, berdurasi 239,64 detik tapi ketinggian kolom tidak teramati,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (22/1).

Berdasarkan catatan esdm.go.id, Gunung Merapi tergolong sebagai gunung berapi teraktif.

Ini dibuktikan dengan catatan sejarah erupsi sejak awal masa kolonial Belanda.

Catatan kala itu, Gunung Merapi mengalami erupsi berulang kali sekitar abad ke-17.

Dari data yang tercatat, letusan besar terjadi sekali dalam 150-500 tahun.

Dalam jurnal berjudul Lintasan Sejarah Erupsi Gunung Merapi, salah satu letusan terbesar terjadi pada 4 Agustus 1672, yang menewaskan 3 ribu jiwa dalam 150 tahun.

Berdasarkan data yang sama, tercatat sejak tahun 1600-an, Gunung Merapi meletus lebih dari 80 kali atau rata-rata sekali meletus dalam 4 tahun

Erupsi Merapi Abad ke-19

Pada masa periode Merapi baru tepatnya Abad ke-19 terjadi beberapa kali letusan.

Tercatat pada medio tahun 1768, 1822, 1849 dan 1872.

Pada era ini erupsi Gunung Merapi terctat lebih besar dari erupsi abad ke-20.

Hal tersebut terlihat dari awan panas yang mencapai 20 kilometer dari puncak.

Catatan sejarah ini kemudian yang memunculkan hipotesa letusan besar terjadi sekali dalam 100 tahun.

Letusan besar bisa bersifat eksplosif dan jangkauan awan panas mencapai 15 kilometer.

Erupsi Tahun 1930 dan Awal Kemunculan Istilah Wedhus Gembel

Catatan erupsi besar pada abad ke-20 adalah medio tahun 1930.

Kala itu, sejarah mencatat erupsi Gunung Merapi menimbulkan letusan dahsyat dan awan panas.

Fenomena alam ini lalu dinamai oleh masyarakat era itu dengan nama Wedhus Gembel.

Dilansir dari laman esdm.go.id, erupsi Gunung Merapi pada 1930 menewaskan sebanyak 1.370 orang dari 13 desa di sekitarnya.

Ribuan hewan ternak milik warga juga mati akibat semburan awan panas.

Erupsi Merapi Tahun 1954

Meski tak sebesar tahun 1930, namun erupsi Gunung Merapi tahun 1954 menjadi salah satu letusan yang banyak memakan korban.

Korban jiwa akibat letusan Merapi pada era tersebut mencapai 64 orang dan luka-luka sebanyak 37 orang.

Erupsi Merapi Tahun 1961

Letusan pada 8 Mei 1961 ini memakan korban sebanyak enam orang.

Akibat dari aktivitas hujan abu yang cukup besar membuat wilayah Kabupaten Sleman dan sekitarnya gelap gulita.

Saat itu Merapi meletus berkali-kali selama hampir dua minggu berturut-turut.

Erupsi Merapi Tahun 1994 dan Peristiwa Turgo

Letusan tahun ini memakan korban terbesar kedua setelah tahun 1930.

Runtuhan kubah lava dengan volume 2,6 juta meter kubik disertai munculnya awan panas sejauh 6,5 kilometer ke arah barat laut dan selatan.

Akibatnya, 69 orang tewas dan puluhan luka-luka dalam tragedi ini.

Peristiwa ini juga menyisakan kisah sedih karena menyapu lokasi hajatan pernikahan.

Tepatnya pada Selasa pagi tanggal 22 November 1994 sedang berlangsun resepsi pernikahan di salah satu rumah warga di RT 006 Padukuhan Turgo, Kalurahan Purwobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman.

Jarak lokasi hajatan sekitar 5 kilometer dari puncak Merapi.

Erupsi Merapi Tahun 1998

Ada erupsi Gunung Merapi pada tahun 1998, tapi tidak menimbulkan korban jiwa karena awan panas mengarah ke atas.

Erupsi ini merupakan letusan dengan arah yang baru sejak erupsi Merapi tahun 1957.

Aliran awan panas meluncur ke arah hulu Sungai Blongkeng dan Senowo yang berada di sisi barat Gunung Merapi.

Erupsi Merapi Tahun 2001

Awal dari letusan ini ditandai dengan hadirnya Wedhus Gembel dan hujan abu.

Keduanya mengarah ke Barat Daya dengan jarak tempuh sampai enam kilometer.

Awan panas yang bergerak cepat pun mengakibatkan hutan pinus di Kandang Macan hangus terbakar.

Ada pula semburan ke udara setinggi lebih dari 5 kilometer dari puncak gunung.

Erupsi Merapi Tahun 2006

Letusan Gunung Merapi pada tahun 2006 membuat rusaknya kawasan Kaliadem.

Selain itu, letusan ini menimbulkan dua korban jiwa dari kalangan relawan.

Munculnya letusan ditandai dengan gempa dan deformasi.

Setelah itu terjadi hujan abu vulkanik yang terjadi tiga hari di daerah Magelang, Kabupaten Sleman, dan Jawa Tengah.

Tahun 2010 dan Wafatnya Mbah Maridjan

Erupsi Merapi 2010 merupakan salah satu peristiwa yang terbesar dan terburuk.

Berawal dari status Normal, Waspada, Siaga hingga Awas dalam tempo yang cepat.

Puncaknya pada 3 November 2010 terjadi letusan terbesar selama 100 tahun terakhir.

Total korban jiwa kala itu mencapai 337 jiwa.

Sejumlah desa di sisi Selatan Gunung Merapi tersapu wedhus gembel dan material vulkanik dan menyebabkan ratusan ribu orang mengungsi.

Peristiwa ini juga dikenang dengan pengabdian seorang juru kunci Merapi yang bernama Mbah Maridjan.

Pemiliki nama gelar Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat Mas Panewu Suraksoharga ini memilih untuk tinggal di desanya.

Sosok ini memegang teguh amanah yang diberikan Sri Sultan Hamengku Buwono IX untuk menjaga Gunung Merapi apapun yang terjadi.

Erupsi Merapi Tahun 2020 dan 3 Tahun Status Siaga

Erupsi Merapi pada tahun 2020 menjadi tonggak awal kenaikan status menjadi Level III atau Siaga. Penetapan status ini telah berlangsung selama lebih dari 4 tahun sejak November 2020.

Walau begitu erupsi Gunung Merapi masih tergolong dalam siklus wajar.

Terlebih erupsi dan luncuran awan panas guguran selama ini masih dalam radius potensi bahaya.

Evaluasi akan dilakukan apabila luncuran melebihi potensi bahaya dan akan berdampak ke pemukiman. 

Editor : Bahana.
#Erupsi Merapi #mbah maridjan