SLEMAN - Tingkat hunian hotel di kabupaten Sleman masih tergolong rendah meski sudah memasuki bulan Oktober. Perhimpunan hotel mengakui kondisi itu sudah terjadi sejak tiga bulan terakhir.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Sleman Joko Paromo mengatakan, okupansi hotel di Sleman memang masih landai. Rata-ratanya hanya berkisar pada angka 50 sampai 55 persen.
Joko menyebut, kondisi rendahnya tingkat hunian hotel memang sudah terjadi sejak bulan Agustus lalu. Karena menurutnya selama tiga bulan terakhir ini sektor perhotelan di Sleman memang tengah memasuki masa-masa low season.
Bahkan, kondisi low season tidak hanya terjadi pada sektor perhotelan saja. Namun sektor lain seperti transportasi dan usaha kuliner juga tengah menghadapi kondisi yang sama.
"Tren-nya selama bulan Agustus-September-Oktober memang masih landai tapi stabil, belum ada kenaikan yang terlalu signifikan," ujar Joko kepada Radar Jogja, Rabu (11/10).
Joko menambahkan, meski selama low season tingkat hunian hotel di Sleman tergolong rendah. Usaha perhotelan masih mendapat pemasukan dari sektor pendukung. Seperti persewaan tempat dan FnB (food and beverages).
Menurutnya, kedua sektor pendukung bisnis perhotelan itu memang cukup bagus dalam menyumbang pendapatan. Sehingga perhotelan pun juga menyediakan berbagai paket untuk pernikahan, rapat, arisan, maupun kegiatan pemerintahan.
"Untuk kegiatan pemerintah masih ada, sekitar 20 sampai 25 kegiatan," terang Joko.
Sementara di sektor pariwisata, Kepala Dinas Pariwisata Sleman Ishadi Yazid menyampaikan, bahwa target kunjungan wisatawan sudah mencapai 76,47 persen. Atau sudah dikunjungi sekitar 5.352.685 wisatawan.
Ishadi menyebut, bahwa kunjungan wisatawan ke Sleman masih tergolong cukup tinggi walaupun dalam situasi low season. Ia pun optimistis target kunjungan sebanyak tujuh juta wisatawan pada tahun ini dapat tercapai.
"Sleman dengan keanekaragaman destinasi wisata yang ada, masih menjadi salah satu pilihan utama wisatawan," terang Ishadi. (inu)