RADAR JOGJA - Desa Wisata Kelor di Bangunkerto, Turi, Sleman sempat menjadi perhatian publik. Sayangnya, bukan karena destinasi wisata yang jadi atensi publik. Namun, karena penemuan potongan tubuh korban mutilasi nama Kelor mencuat ke hadapan masyarakat luas.
Kelor menjadi desa wisata sejak 2006 lalu didasarkan dekat dengan objek wisata yang sering dikunjungi pelancong. Terdapat rumah Joglo yang sarat nilai sejarah karena kala zaman penjajahan dijadikan markas tentara pelajar. Dari situ lah warga Kelor berinisiatif menjadikan daerahnya sebagai desa wisata.
Ketua Desa Wisata Kelor Endra Harwanta mengungkapkan, rumah Joglo menjadi destinasi yang paling ditonjolkan. Selain itu dikembangkan wisata kuliner serta kebun salak. "Kami punya sungai yang bisa dijadikan sebagai kegiatan susur sungai dan ada outbound ya memang belum begitu besar," katanya kepada Radar Jogja, Jumat (21/7/23). Rumah Joglo yang ada di Kelor bukan museum tetapi bersifat seperti rumah singgah.
Menurutnya, ada beberapa barang dari rumah Joglo yang dibawa ke Benteng Vredeburg, DIJ. Hal itu karena memiliki nilai sejarah ketika Indonesia masih dijajah Belanda dan Jepang. Sepeda ontel dan lampu yang dibawa ke Benteng Vredeburg sebelum Kelor menjadi desa wisata.
Harwanta menyebut, biasanya pengunjung banyak datang pada weekend atau hari libur. Mayoritas pengunjung ialah rombongan pelajar, mahasiswa, dan dari instansi swasta ataupun negeri. Namun, akibat adanya penemuan potongan tubuh di Kelor jumlah pengunjung mengalami penurunan. "Biasanya minggu-minggu ini udah ada yang booking kok sekarang belum ada yang booking," tambahnya.
Selain itu, ada juga beberapa pihak yang menanyakan ke Harwanta perihal penemuan potongan tubuh itu. Utamanya mereka yang pernah menjadikan Kelor sebagai destinasi wisata. Tentunya sungai yang menjadi lokasi penemuan pertama potongan tubuh mutilasi R menjadi pusat pertanyaan para pengunjung.
Hal itu karena ada wahana susur sungai di Kelor yang sering digunakan wisatawan. Pengunjung menanyakan lokasi yang menjadi susur sungai apakah sama dengan tempat penemuan potongan tubuh korban R atau tidak."Ya sama, tetapi kan lokasi susur sungai di atas, di bawah jembatan itu (penemuan potongan tubuh, Red) pelaku hanya membuang lalu pergi. Pelaku bukan banget warga Kelor," tegas Harwanta. Dia tidak mengetahui angka pasti penurunan jumlah pengunjung. Tetapi yang pasti terjadi penurunan jumlahnya.
Demi kembali meningkatkan jumlah kunjungan sudah dilakukan berbagai upaya. Di antaranya ialah sosialisasi secara langsung ke pengunjung dan melalui media sosial (Medsos). Harwanta menyampaikan, jika Kelor hanya dijadikan lokasi pembuangan saja. Bukan tempat beraksi melakukan mutilasi atau pembunuhan. Bahkan, kedua pelaku yang memutilasi korban bukan warga dan tidak ada sangkut pautnya dengan Kelor. Selain itu, tidak ada kaitan Kelor dengan para pelaku ataupun korban mutilasi.
Di Kelor ada pendopo di tengah sawah yang bisa digunakan untuk kegiatan berkelompok. Sementara untuk tempat menginapnya juga sudah disediakan untuk para pengunjung. Sehingga, untuk kelompok apapun itu yang hendak melangsungkan kegiatannya dalam jangka beberapa secara bersama-sama bisa menjadikan Kelor sebagai opsinya. (cr3/pra)