Aktivitas Gunung Merapi Level III Siaga: Guguran Lava Meluncur 1.200 Meter ke Arah Kali Sat

SLEMAN - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang membentang di perbatasan Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah hingga kini masih menunjukkan tingkat kegempaan yang tinggi serta dinamika suplai magma yang sangat aktif.
Berdasarkan hasil analisis menyeluruh dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), status atau tingkat aktivitas gunung api setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut ini masih berada pada Level III atau Siaga.
Dalam laporan resmi pemantauan periode Jumat, 6 November 2026 mulai pukul 00.00 hingga 24.00 WIB, penyusun laporan BPPTKG, Ngadiyo, mencatat serangkaian aktivitas kegempaan, fenomena meteorologi, hingga pergerakan luncuran material vulkanik.
Selama rentang waktu pengamatan 24 jam tersebut, tim pengamat di lapangan merekam terjadinya satu kali guguran lava pijar yang meluncur deras menuju sektor Kali Sat atau Kali Putih dengan jarak luncur maksimum mencapai 1.200 meter.
Kondisi visual puncak gunung terpantau cukup jelas meskipun sempat tertutup kabut dengan intensitas tipis hingga tebal. Asap kawah bertekanan lemah berwarna putih teramati membumbung dengan intensitas sedang hingga tinggi mencapai 325 meter di atas puncak.
Kondisi cuaca di kawasan lereng dan puncak Gunung Merapi terpantau bervariasi antara cerah, berawan, hingga mendung. Suhu udara di sekitar pos pengamatan tercatat berada pada kisaran 16,7 hingga 29 derajat Celsius.
Sementara itu, kelembaban udara tercatat berada pada rentang 60 hingga 100 persen, dipadukan dengan tekanan udara 873,4 hingga 918 mmHg serta hembusan angin bertiup lemah ke arah utara, timur, dan barat.
Dari rekaman instrumen kegempaan, aktivitas di dalam tubuh gunung didominasi oleh gempa fase banyak atau hybrid dan gempa guguran yang menjadi penanda kuat masih berlangsungnya pergerakan magma ke permukaan.
Gempa guguran terekam sebanyak 47 kali kejadian dengan amplitudo berkisar antara 2 hingga 44 milimeter, serta durasi gempa yang berlangsung cukup bervariasi mulai dari 46,19 hingga 183,13 detik.
Selain itu, gempa hybrid atau fase banyak tercatat sebanyak 52 kali kejadian dengan amplitudo 2 hingga 38 milimeter, beda waktu gelombang S dan P (S-P) 0,3 hingga 0,5 detik, dan durasi 7,79 hingga 59,38 detik.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!



