Siaga Merapi Siang Ini, Lava Pijar Meluncur 1,6 Kilometer, Warga Lereng Merapi Diminta Tetap Waspada

SLEMAN - Atap langit di atas Gunung Merapi tampak redup diselimuti mendung dan awan tebal sejak pagi hingga siang hari ini. Di balik kabut putih yang memeluk puncak setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut tersebut, denyut aktivitas sang gunung purba di perbatasan DIY dan Jawa Tengah ini nyatanya belum juga mereda.
Berdasarkan hasil pengamatan berkala BPPTKG pada Jumat (25/9/2026) periode pukul 06.00 hingga 12.00 WIB, Merapi kembali menunjukkan pergerakan magma dari perut bumi. Suasana di sekitar kawasan lereng terasa tenang dengan hembusan angin sepoi-sepoi ke arah timur, menyelimuti suhu udara yang berkisar antara 24,2 hingga 30,1 derajat Celsius.
Secara visual, puncak Merapi memang tertutup kabut tebal dan tidak menampakkan asap kawah secara kasatmata. Namun, rekaman seismik instrumen kebencanaan mencatat adanya getaran bawah permukaan yang menandakan suplai magma segar masih terus berlangsung tanpa henti.
Dalam kurun waktu enam jam pengamatan tersebut, tim penyusun laporan mencatat terjadinya 18 kali gempa guguran. Gempa ini memiliki amplitudo antara 2 hingga 35 milimeter dengan durasi yang lumayan panjang, mencapai 166,46 detik.
Selain itu, instrumen juga merekam 13 kali gempa fase banyak atau *hybrid*. Getaran ini menjadi sinyal kuat bahwa tekanan material dari dalam perut bumi masih terus mendorong menuju ke permukaan kawah.
Dari pemantauan lapangan, telah teramati sebanyak tiga kali guguran lava pijar yang meluncur ke sektor barat daya. Merapi mengarahkan lelehan materialnya menuju alur Kali Sat, Kali Putih, dan Kali Krasak dengan jarak luncuran maksimum mencapai 1.600 meter.
Hingga saat ini, Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan status Gunung Merapi pada **Level III (Siaga)**. Status ini mengindikasikan bahwa potensi ancaman bahaya sewaktu-waktu dapat mengintai kawasan sekitarnya.
Potensi bahaya utama yang perlu diwaspadai masyarakat adalah guguran lava serta awan panas guguran. Jalur alur sungai di sektor selatan hingga barat daya, seperti Sungai Boyong, Bedog, Krasak, dan Bebeng, menjadi wilayah yang rawan diterjang awan panas hingga radius 5 sampai 7 kilometer.
Sementara untuk sektor tenggara, potensi ancaman bahaya mengintai kawasan Sungai Woro hingga sejauh 3 kilometer serta Sungai Gendol hingga jarak 5 kilometer. Jika terjadi erupsi eksplosif yang melontarkan material vulkanik, lontaran batu dan debu diperkirakan sanggup menjangkau radius 3 kilometer dari puncak.
Petugas imbau masyarakat yang bermukim di sekitar lereng untuk sama sekali tidak melakukan aktivitas apa pun di dalam area zona bahaya yang telah direkomendasikan. Kedisiplinan warga menjadi kunci utama dalam menjaga keselamatan bersama.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




