Data Terbaru Dampak Keracunan di Turi Ada 69 Orang, Dua Masih Opname

SLEMAN - Korban keracunan imbas program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman pada Senin (7/9) lalu terus bertambah. Para siswa ini merasakan keluhan usai mengonsumsi menu yang terdiri dari nasi putih, bola-bola sapi goreng, edamame, kari kol wortel, dan semangka kuning.
Panewu Anom Turi, Muh. Yunan Nurtrianto menjelaskan, data terbaru ada 69 orang yang terdampak. Terdiri dari SMK Muhammadiyah 1 Turi 23 orang, SMP Negeri 3 Turi dengan 37 orang, lalu SD Muhammadiyah Balerante sebanyak 9 orang. Mereka yang terdampak mayoritas rawat jalan. Tercatat hanya dua anak yang opname. Masing-masing satu orang dari SMP Negeri 3 Turi dan SMK Muhammadiyah 1 Turi.
"Untuk yang opname masih dalam tahap observasi pihak RSUD Sleman," katanya dikonfirmasi, Selasa (8/9).
Dia menerangkan memang reaksi keracunan tidak serta-merta dirasakan pada hari yang sama dengan konsumsi makaman. Berdasarkan pemaparan Dinas Kesehatan reaksinya bisa muncul sampai tiga hari.
Baca Juga: Kebakaran di TPA Galuga Bogor Berasal dari Lahan Pertanian, Helikopter Water Bombing Dikerahkan
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman Khamidah Yuliati menjelaskan, bersama Puskesmas Turi dan Field Epidemiology Training Program Universitas Gadjah Mada (FETP UGM) telah melakukan verifikasi kasus dan investigasi terhadap laporan keluhan kesehatan pada penerima MBG yang diproduksi SPPG Wonokerto.
Berdasarkan data terakhir yang dia peroleh pada Senin (7/9) pukul 20.30 dari 261 responden, tercatat 35 orang mengalami keluhan kesehatan dan 226 orang tidak mengalami keluhan. Sebanyak 204 responden tercatat mengonsumsi MBG.
"Keluhan yang paling banyak ditemukan adalah pusing dan sakit perut, disusul mual, sakit kepala, lemah, dan muntah," ujarnya.
Dia sebut analisis epidemiologi terhadap menu MBG belum menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik. Salah satu menu, yaitu bola-bola sapi goreng, memang menunjukkan ukuran asosiasi paling tinggi dan masih menjadi bagian yang ditelusuri dalam investigasi. Hal tersebut belum dapat dinyatakan sebagai penyebab kejadian.
"Sampel makanan dan air telah diambil dan dikirim ke laboratorium pada 7 September 2026. Hasil pemeriksaan laboratorium masih menunggu," katanya.
Menurut Yuli, setelah laporan kejadian diterima, dilakukan langkah penghentian konsumsi dan distribusi MBG pada lokasi penerima sebagai upaya mencegah bertambahnya kasus. Sebagian porsi yang telah terlanjur diterima dan dikonsumsi tercatat sebanyak 867 porsi pada enam satuan pendidikan.
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!




