Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Merapi Level III Siaga, Semburkan Awan Panas 2 KM Hari Ini, Warga Diminta Jauhi 7 Sungai Ini

I
Penulis: Iwa Ikhwanudin❯
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.
Ilustrasi Awan panas guguran gunung Merapi.

Advertisement

 SLEMAN - Status Gunung Merapi masih bertahan di Level III atau Siaga. Aktivitas vulkanik salah satu gunung teraktif di Indonesia ini belum menunjukkan tanda-tanda melandai.

Berdasarkan laporan resmi Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) periode pengamatan Senin, 25 Agustus 2026, Merapi kembali menunjukkan aktivitas yang cukup tinggi.

Secara meteorologi, cuaca di sekitar puncak Merapi terpantau cerah hingga mendung. Angin bertiup lemah ke arah barat dengan suhu udara berkisar 16 hingga 25 derajat Celcius. Meski sempat tertutup kabut tipis, visual puncak gunung setinggi 2.968 meter di atas permukaan laut itu masih terlihat jelas.

Advertisement

Dari kawah, teramati asap putih tipis hingga sedang dengan tekanan lemah. Ketinggiannya mencapai 50 sampai 400 meter di atas puncak. 

Paling mencolok, terjadi awan panas guguran. Luncurannya tercatat mencapai 2.000 meter mengarah ke hulu Kali Sat atau Kali Putih. Selain itu, guguran lava juga teramati sebanyak 20 kali dengan jarak luncur maksimal yang sama, 2 kilometer, mengarah ke sektor barat daya meliputi Kali Sat/Putih, Kali Bebeng, dan Kali Krasak.

Advertisement

Aktivitas kegempaan Merapi pun masih fluktuatif. Dalam 24 jam, seismograf mencatat 1 kali gempa awan panas guguran dengan amplitudo 59 mm dan durasi 142 detik. Gempa guguran mendominasi dengan 110 kejadian, disusul 67 kali gempa hybrid atau fase banyak.

Tercatat pula 1 kali gempa vulkanik dangkal dan 2 kali gempa tektonik jauh. Data ini mengindikasikan suplai magma dari dalam masih terus berlangsung.

Atas kondisi tersebut, BPPTKG mempertahankan rekomendasi bahaya. Potensi utama saat ini adalah guguran lava dan awan panas di sektor selatan-barat daya. Meliputi Sungai Boyong dengan jarak maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh 7 kilometer.

Sementara di sektor tenggara, bahaya meliputi Sungai Woro sejauh 3 kilometer dan Sungai Gendol 5 kilometer. Jika terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik diperkirakan bisa mencapai radius 3 kilometer dari puncak.

Masyarakat diminta untuk tidak melakukan aktivitas apapun di daerah potensi bahaya tersebut. Warga di sekitar Merapi juga diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya lahar hujan dan awan panas guguran, terutama saat turun hujan.

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Pemkab Purworejo Ajak Selurum Elemen untuk Mitigasi Ancaman Karhutla

Pemkab Purworejo Ajak Selurum Elemen untuk Mitigasi Ancaman Karhutla

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo mengajak seluruh komponen bersama melakukan mitigasi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

BPBD Gunungkidul Siapkan Berbagai Sumber Pendanaan Antisipasi Kekeringan Perkuat Mitigasi Kebencanaan

BPBD Gunungkidul Siapkan Berbagai Sumber Pendanaan Antisipasi Kekeringan Perkuat Mitigasi Kebencanaan

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gunungkidul memastikan penanganan potensi bencana kekeringan tidak hanya mengandalkan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD).  Pemerintah menyiapkan dukungan...

Revitalisasi 190 Candi Perwara Prambanan Dinilai Berpotensi Ganggu Wisata, Dispar DIY Siapkan Mitigasi

Revitalisasi 190 Candi Perwara Prambanan Dinilai Berpotensi Ganggu Wisata, Dispar DIY Siapkan Mitigasi

Rencana revitalisasi lebih dari 190 candi perwara di Kompleks Candi Prambanan melalui kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah India diperkirakan akan memunculkan penyesuaian pola kunjungan wisata. 

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer