Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Cuma Diberi Pesangon 0,5 Persen, Karyawan PT MTG Gruduk Kantor Pemkab Sleman

D
Penulis: Delima Purnamasari❯
Delima Purnamasari/Radar Jogja - Demo karyawan PT MTG
Delima Purnamasari/Radar Jogja - Demo karyawan PT MTG

Advertisement

SLEMAN - Karyawan PT Mataram Tunggal Garment (PT MTG) menggelar aksi demonstrasi di Kantor Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman, Rabu (1/4). Mereka menolak pesangon yang tidak sebanding dengan masa kerja. 

Pantauan Radar Jogja di lokasi, para pekerja serempak menggunakan baju putih. Mereka membawa bendera dan berbagai tulisan protes. Di antaranya, "Menolak perhitungan pesangon yang tidak sesuai dengan aturan ketenagakerjaan", "Tolak pesangon murah", hingga "Pailit apa pelit?". Para peserta demonstrasi ini mulai bergerak menuju Kantor Dinas Tenaga Kerja sekitar pukul 09.40. Usai menyampaikan orasi singkat, mereka berjalan menuju Kantor Bupati Sleman.

Salah satu karyawan PT MTG, Haryani menjelaskan, usai mengalami musibah kebakaran pada 21 Mei 2025 lalu, perusahaan telah melakukan pemutusan hubungan kerja bagi sekitar 1300 karyawan. Sementara saat ini menyisakan 379 karyawan yang disebut the best-the best.

Advertisement

Dalam hal ini mereka yang memiliki masa kerja lama lebih dari 25 tahun. Perempuan yang bekerja sebagai leader sewing ini menyebut, karyawan yang sebelumnya di PHK mendapat pesangon 0,75 persen. Jadi, mereka mempertanyakan mengapa perusahaan kini justru menerapkan pesangon yang lebih rendah sebesar 0,5 persen. Mereka menuntut agar perusahaan membayar pesangon sebesar dua persen.

"Padahal pasca-kebakaran katanya kami the best, makanya kita diprioritaskan untuk membangun MTG kembali. Supaya bangkit dan dapat order lebih banyak," katanya ditemui di sela-sela aksi. 

Advertisement

Para pekerja menolak alasan perusahaan yang bangkrut sebagai dalih kebijakan ini. Kenyataan di lapangan perusahaan masih menerima banyak pesanan dan berproses dalam pembangunan. Hingga saat ini mereka belum mendatangi perjanjian pesangon ini. 

"Kami sudah komunikasi dengan perusahaan secara baik-baik, tapi mereka tidak menanggapinya," tambah perempuan yang telah bekerja di PT MTG selama 26 tahun ini. 

Haryani menjelaskan, usai kebakaran mereka yang dipertahankan bekerja di dua lokasi, yakni di sisa Kantor PT MTG dan di SMK Muhammadiyah 1 Tempel.

Hanya saja pada 28 April mendatang rencananya akan ada PHK kembali secara menyeluruh. Dia tidak tahu ketika nantinya perusahaan kembali beroperasi apakah akan dengan karyawan lama atau justru membuka rekruitmen karyawan baru. 

"Kami sengaja mogok kerja hari ini karena menuntut pesangon yang dua persen itu. Kami enggak mau sudah berjuang sekian lama tidak dihargai, bahkan gaji juga tidak naik," tambahnya. 

Advertisement
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

Startup Sleman SysBraykr Bikin Website UMKM Anti-Bobol, Kliennya Perusahaan Swasta hingga Bank BUMN

Startup Sleman SysBraykr Bikin Website UMKM Anti-Bobol, Kliennya Perusahaan Swasta hingga Bank BUMN

Ketika aktivitas usaha semakin bergantung pada layanan digital, celah keamanan dapat berujung pada peretasan, kebocoran data, terganggunya kepercayaan pelanggan. Menjawab kebutuhan tersebut, PT Otskyr Sembagi Mandara ...

Dikenal sebagai Pengikut Sunan Kalijaga, Makam dan Peninggalan Mbah Bregas Jadi Wisata Religi

Dikenal sebagai Pengikut Sunan Kalijaga, Makam dan Peninggalan Mbah Bregas Jadi Wisata Religi

Makam dan situs peninggalan Mbah Bregas di Margoagung, Seyegan, Kabupaten Sleman hingga kini masih jadi jujugan peziarah dari berbagai daerah. Tokoh yang diyakini sebagai pengikut Sunan Kalijaga sekaligus mantan ...

Ambulans di Gamping Dilempar Batu, Polisi Buru Pelaku 

Ambulans di Gamping Dilempar Batu, Polisi Buru Pelaku 

Polsek Gamping tengah menyelidiki dugaan tindak pidana perusakan dengan pelemparan batu terhadap satu unit mobil ambulans milik Yayasan Lazia Pioner LHI.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer