RADAR JOGJA – Pemerintah Kabupaten Sleman menyiapkan jaring pengaman sosial senilai Rp12,3 miliar. Fungsinya untuk membuat program yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo menjelaskan, dana tersebut diperuntukkan bagi masyarakat miskin dan rentan miskin. Akan digunakan unutk kesehatan, pendidikan, dan sosial. “Termasuk di dalamnya ada untuk pelatihan dan sebagainya,” ungkapnya Rabu (25/1).

Selain jaring pengaman sosial, Kustini menyebut telah menyiapkan bantuan sosial dengan total anggaran lebih dari Rp 18 miliar. Bantuan sosial ini diperuntukkan bagi yatim piatu, disabilitas, lanjut usia terlantar, lembaga kesejahteraan sosial, dan korban bencana.

“Kami juga akan membantu masyarakat untuk yang mau berkarya. Yang minat dengan UMKM nanti kami dampingi. Yang minat pertanian nanti akan kami sediakan tanah kas desa juga,” bebernya.

Menurutnya, berbagai upaya dilakukan untuk memutus rantai kemiskinan. Di antaranya dengan melakukan pendataan data pensasaran percepatan penghapusan kemiskinan ekstrem (P3KE). Fungsinya untuk memetakan jenjang kemiskinan di masing-masing daerah.

Pemkab Sleman juga berupaya aktif dalam memberikan edukasi maupun layanan pemberdayaan masyarakat miskin termasuk para lansia. Kustini mencontohkan program pahlawan ekonomi nusantara (PENA) yang digagas oleh Kementerian Sosial. Bentuknya berupa bimbingan pelatihan dan sarana prasarana usaha bagi warga miskin.

Sementara itu, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa menuturkan, angka kemiskinan di Kabupaten Sleman tahun lalu mengalami penurunan. Hal ini dipicu oleh pertumbuhan ekonomi warga, seiring kondisi Covid-19 yang stabil. “Kemarin 8,64 persen, sekarang 7,8 persen. Ada 0,99 hampir satu persen lah,” ujarnya.

Disebut Danang, sektor penyokong ekonomi sudah mulai tumbuh. Dari sektor pariwisata hingga industri. Sehingga warga sudah bisa beraktivitas dan bekerja secara kondusif. “Ini semua sektor sudah berjalan, tentunya masyarakat juga di dalam mendapatkan pendapatan,” tambahnya.

Danang menargetkan, penurunan angka kemiskinan tahun ini turun satu persen. Hal ini bisa terwujud, sebab kondisi pandemi mulai terkontrol dan ekonomi terus tumbuh. Terlebih Sleman memiliki potensi cukup bagus dibanding daerah lain di DIJ. “Miskin nggak mungkin zero. Di mana pun ada tapi target setiap tahun minimal satu persen harus kita turun,” tegasnya.

Sejumlah program disiapkan untuk menurunkan angka kemiskinan. Danang menyebut perlu dilakukan mapping terlebih dahulu. Dengan begitu, program yang akan digulirkan dapat disesuaikan dengan kondisi wilayah masing-masing. ”Kemiskinan ini terkait dengan apa, program yang diberikan terkait dengan kemiskinan harus tepat sasaran dan efektif,” ujarnya.

Danang mencontohkan kondisi Kapanewon Prambanan yamg dulu tidak potensial. Namun sekarang memiliki banyak hal yang bisa dikembangkan. Mulai dari pariwisata hingga industri yang menyerap banyak karyawan. “Kami mapping di setiap wilayah karena kemiskinan di Sleman di setiap wilayah beda-beda,” rincinya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin di DIJ pada September 2022 sebanyak 463.630 orang. Mengalami kenaikan sebanyak 8.900 orang dibandingkan Maret 2022. Kondisi ini menjadikan DIJ sebagai daerah paling miskin di Jawa dengan angka kemiskinan di atas rata-rata nasional, yakni 9,57 persen. (lan/eno)

Sleman