RADAR JOGJA – Gunung Merapi kembali meluncurkan 15 kali guguran lava dalam sepekan terakhir. Hal itu merupakan hasil amatan BPPTKG Jogjakarta mulai 13-19 Januari.

Seluruh material vulkanik mengarah ke barat daya atau hulu Kali Bebeng dan Kali Sat atau Putih. Dengan jarak luncur maksimal 2000 meter. “Suara guguran terdengar dari Pos Babadan dan Pos Kaliurang sebanyak 15 kali dengan intensitas kecil hingga besar,” kata Kepala BPPTKG Jogjakarta Agus Budi Santoso Minggu (22/1).

Terkait pertumbuhan kubah lava, BPPTKG menemui adanya perubahan morfologi yang signifikan pada kubah barat daya dan kubah tengah Gunung Merapi yaitu penurunan volume kubah. Volume kubah barat daya terukur sebesar 1.598.700 meter kubik, sedangkan untuk kubah tengah sebesar 2.267.400 meter kubik. “Dalam minggu ini kegempaan Gunung Merapi juga masih tinggi,” ujarnya.

Gunung setinggi 2.968 mdpl ini tercatat mengalami 743 kali gempa Vulkanik Dalam (VTA), 10 kali gempa Vulkanik Dangkal (VTB), 52 kali gempa Fase Banyak (MP), 365 kali gempa Guguran (RF), 4 kali gempa Hembusan (DG), dan 11 kali gempa Tektonik (TT). Intensitas kegempaan pada minggu terakhir itu diklaim masih cukup tinggi. “Pemantauan deformasi Gunung Merapi pada minggu ini tidak menunjukkan perubahan yang signifikan,” jelasnya.

Pada minggu terakhir kemarin, juga terjadi hujan dan lahar di Pos Pengamatan Gunung Merapi. Dengan intensitas curah hujan sebesar 41 mm/jam selama 160 menit di Pos Babadan Sabtu (14/1). “Dan dilaporkan adanya penambahan aliran di Kali Gendol,” ucapnya.

Dari hasil amatan itu, disimpulkan aktivitas vulkanik Merapi masih cukup tinggi berupa aktivitas erupsi efusif. Status aktivitas ditetapkan dalam level 3 atau siaga.

Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal lima kilometer, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal tujuh kilometer. Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal tiga kilometer dan Sungai Gendol lima kilometer. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius tiga kilometer dari puncak.

Dia pun mengimbau Pemkab Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten agar melakukan upaya-upaya mitigasi menghadapi ancaman bahaya erupsi. Seperti peningkatan kapasitas masyarakat dan penyiapan sarana prasarana evakuasi. Pun masyarakat diimbau agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. Dan mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Merapi, serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi. “Jika terjadi perubahan aktivitas Gunung Merapi yang signifikan maka status aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali,” tandasnya. (wia/eno)

Sleman