RADAR JOGJA – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Cabang Jogjakarta menyuarakan aspirasi di depan Gedung Rektorat UNY, Kamis (19/1). Tuntutannya agar Pemerintah memperbaiki sistem uang kuliah tunggal (UKT).

Koordinator Umum SMI Ryan Santula mengatakan pendidikan sudah semestinya menjadi tanggungjawab negara. Terutama kepada orangtua mahasiswa yang berpenghasilan rendah. Ini karena adanya kebijakan UKT golongan rendah dirasa belum ideal.

“Idealnya pendidikan di bangku perguruan tinggi sudah sepatutnya digratiskan. Pemberlakuan UKT di Indonesia pada akhirnya membuat orang-orang miskin yang menempuh pendidikan di kampus negeri pada akhirnya tidak mampu membayar kuliah,” jelasnya ditemui di Gedung Rektoran UNY, Kamis (19/1).

Dia juga menyayangkan adanya status Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum atau PTN-BH yang diterapkan sejumlah PTN di Indonesia. Salah satunya diterapkan di UNY. Otonomi atau kebebasan pihak kampus PTN-BH dalam mengatur regulasi, menurutnya, tanda pemerintah lepas tangan.

Ryan menuturkan saat ini ada lebih dari 4.000 perguruan tinggi di Indonesia. Sebanyak 3.000-an perguruan tinggi berstatus swasta. Sisanya merupakan perguruan tinggi negeri. 

“Padahal ada undang-undang yang mengatur negara untuk menjamin pendidikan warga negaranya. Dampaknya, banyak mahasiswa yang tidak bisa mengurus KRS-nya,” katanya.

Ryan mengungkapkan persoalan soal sistem UKT tak hanya terjadi sekali dua kali. Dia mencontohkan salah satu universitas negeri di Jogjakarta. Menurutnya tak objektif dalam menerapkan golongan UKT.

Lebih lanjut, Ryan menuturkan sistem UKT belum berpihak. Seharinya mendapat UKT rendah, justru membayar UKT golongan tinggi. Inilah yang menjadi salah satu tuntutan agar pemerintah Memperbaiki sistem UKT.

“Ini aksi ketiga kami, kalau tidak ada hasil, akan ada aksi lanjutan di Jakarta. Kami akan mendatangi kantor Pak Nadiem (Mendikbud Ristek Dikti). Sekarang kami sedang proses riset, pengumpulan data seberapa banyak mahasiswa yang merasa keberatan,” ujarnya. (isa/dwi)

Sleman