RADAR JOGJA – Vaksinasi Lumpy Skin Disease (LSD) bagi ternak sapi mulai digencarkan. Hal ini dilakukan setelah adanya sapi yang positif LSD di wilayah Sleman. Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Suparmono menjelaskan, dinasnya telah mengajukan 3.000 dosis vaksin LSD ke pemerintah pusat. Hanya saja, vaksin yang datang baru 1.300 dosis.

Kemudian 239 dosis, disuntikkan perdana pada ternak di kandang sapi Kelompok Ternak Andini Mangambar, Mulungan Kulon, Sendangadi, Mlati kemarin (18/1). “Sisanya kami tarik ke Cangkringan,” sebut pria yang kerap disapa Pram di lokasi launching vaksinasi LSD.

Vaksinasi pertama ini, menyasar radius 10 kilometer dari temuan sapi positif LSD di sekitar Mulungan Kulon. Dari 23 Desember hingga kemarin, sudah ada 14 ekor sapi yang tersuspek LSD. Lima di antaranya positif LSD. Dua ekor berasal dari Padukuhan Beran Kidul, Tridadi, da tiga lainnya dari Kalurahan Kepuharjo dan Argomulyo, Cangkringan. Meski demikian, belum ditemukan sapi mati karena positif LSD.

Pram menuturkan, gejala virus LSD pada sapi sulit dikenali. Namun jika dicermati, terdapat benjolan pada kulit sapi, seperti bercak-bercak bentol di kulit. Selain itu, kondisi sapi lemas, dan pertumbuhannya terganggu.
Adanya virus varian baru pada sapi ini, petugas pusat kesehatan hewan (Puskeswan) medik paramedis didorong untuk melakukan tracing. Selanjutnya dilakukan pengambilan sampel sapi maupun lalat. Sebab, lalat menjadi pemicu virus SLD ini tumbuh. “Hasil dari uji laboratorium beberapa waktu lalu, ternyata lalatnya juga positif,” sebutnya.

Tingkat fatalitasnya mencapain 10 persen. Meski tidak berdampak pada kematian signifikan, namun pertumbuhan ternak menjadi terganggu. Misalnya sapi perah, produksi susunya berkurang. Demikian juga sapi pedaging, pertumbuhannya pun lamban. Meski demikian, pada hewan yang positif, baik daging maupun susu sapi tetap aman dikonsumsi. “Daripada mengobati maka lebih baik dilakukan vaksinasi,” ucapnya.

Penanganan di Sleman cepat dilakukan, lanjut Pram, karena 95 persen merupakan peternak kecil. “Proses bisnis sapi sudah oke. Pakan dan penjualan juga udah oke. Tapi kalau kena virus mereka tidak bisa menangani sehingga pemerintah harus hadir secepatnya. Kita bantu betul,” sambungnya.
Setelah ini, sasaran vaksinasi akan dilanjutkan ke Cangkringan dan Pakem. Untuk menyasar sapi perah. Sedangkan untuk kekurangan dosis vaksin, dinas akan kembali mengajukan ke pemerintah pusat.

Penanggungjawab Kelompok Kandang Ternak Andini Mangambar dr Akbar Taruna mengungkapkan, populasi ternak sapi di Mulungan Kidul sebanyak 68 ekor. Namun jika menjelang ibadah haji, populasi bisa sampai bisa 100 ekor.
Saat ini peternak di wilayahnya, cenderung fokus pada breeding sapi peranakan.

Adapun jenis sapinya, yakni sapi peranakan ongol (PO) simental dan sapi lemosin yang fokus pada sapi pedaging. “Antisipasi yang dilakukan penyemprotan semua kandang, pembersihan karena kan vektornya lalat. Agar vektor ini mati tidak menyebar ke peternak lain,” ungkapnya.

Dikatakan, adanya LSD belum berpengaruh pada harga sapi di pasaran. Saat ini harganya berkisar Rp 15 juta sampai Rp 25 juta per ekor, dengan harga sapi betina lebih mahal. “Kalau harganya belum ngefek. Tapi infonya di sejumlah pasar daerah lain sudah lockdown. Alhamdulillah di sini belum ada,” katanya.

Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengimbau, setelah ternak mendapatkan vaksin, peternak diharapkan tetap menjaga kebersihan lingkungan kandang. Dan dibarenagi dengan gerakan bersama. “Bila ditemukan sapi positif. Jangan dibawa keluar disembuhkan dulu agar tidak menular ke yang lain,” tandasnya. (mel/eno)

Sleman