RADAR JOGJA – Biasanya, suasana mengaji sore hari di masjid kerap dihiasi dengan keriuhan anak-anak dan lantunan ayat suci yang dibaca bersahut-sahutan. Namun, berbeda halnya dengan suasana mengaji kitab suci Qur’an di Pondok Pesantren Tuna Rungu Darul Ashom yang terletak di Jalan Kayen Raya No. C11, Kayen, Condongcatur, Depok, Sleman. Tanpa suara, para santri terus melafalkan ayat suci Quran dengan menggunakan bahasa isyarat.

Pendiri Pondok Pesantren Tuna Rungu Darul Ashom, Abu Kahfi menjelaskan dia memulai mendirikan Pondok Pesantren Darul Ashom sejak 2019. Hatinya terketuk saat menjumpai anak-anak tuna rungu dan mulai merasa risau atas kehidupan mereka nanti usai menjalani kehidupan di dunia.

Bukan tanpa alasan, dia merasa pengetahuan agama anak tuna rungu yang dia temui saat itu masih sangat mendasar. Sementara, menurutnya mereka memiliki kewajiban agama yang sama dengan lainnya.

“Setelah saya lihat, ternyata mereka belum pernah belajar dari ustad yang bisa isyarat, yang menyampaikan agama pada mereka, sehingga mereka tidak mengenal agama, tidak mengenal Allah. Dari situ, saya mulai termotivasi, merasa risau bagaimana masa depan mereka di dunia dan di akhiratnya, terutama masalah agamanya. Sejak saat itu, saya berniat bahwa semuanya mengabdikan hidup kita ini untuk mereka ini yang tuna rungu,” jelasnya saat ditemui di Pondok Pesantren Darul Ashom beberapa waktu lalu.

Awalnya, bahasa isyarat merupakan hal awam baginya. Pekerjaan Abu Kahfi sebagai pembimbing ibadah umroh pada waktu itu, menjadi pintu baginya untuk belajar Quran dengan menggunakan bahasa isyarat dari jamaah yang menjalankan ibadah umroh di tanah suci.

Dia percaya, cepat atau lambat melafalkan Qur’an dengan bahasa isyarat akan dia kuasai. Seiring berjalannya waktu, mengajar mengaji bagi anak tuna rungu menjadi tanggung jawab baru baginya. Berbagai kendala dan tantangan pun silih berganti dia hadapi.

“Kesulitan ini adalah tantangan buat saya. Jelas yang sulit ini adalah mengenalkan yang baru buat mereka. Qur’an, agama adalah hal baru. Pertama, jelas mereka bukan menolak. Di Indonesia belum biasa dengan bahasa mereka, keluarga pun belum biasa. Terlebih bahasa agama bagi mereka. Inilah tantangan kami, bagaimana membiasakan yang tidak biasa kepada mereka, sehingga mereka mau mempelajari agama bahkan mereka tahu tanggung jawab agama,” katanya.

Hingga saat ini, terdapat sebanyak 116 santri tuna rungu di Pondok Pesantren Darul Ashom. Mengikuti perkembangan mereka sejak awal, Abu Kahfi menyadari santri-santrinya mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama dalam hal kemandirian.

Tak hanya itu, para santri pun telah memiliki kesadaran dalam menjalankan ibadah wajib maupun sunnah. Bahkan, ada santri yang telah berhasil menghafalkan sebanyak 9 juz Qur’an.

“Mereka mandiri di sini dalam artian jauh dari keluarga. Mereka diberikan pembelajaran bagaimana mereka menghadapi hidup. Jadi, kedepannya mereka tidak ada ketergantungan dengan orang-orang sekitar. Mereka kita ajari mengaji sendiri, setoran hafalan yang mereka hafalkan sendiri. Dia mengamalkan di solat tahajud pun dia bangun sendiri. Bahkan, sekarang puasa sunnah pun mereka mau sendiri tidak ada paksaan. Sehingga kedepannya mereka sudah ada visi, sudah ada tujuan,” ujarnya.

Keberadaan Pondok Pesantren Tuna Rungu Darul Ashom dinilai sangat meringankan beban orangtua. Salah satu orang tua santri, Tugini mengaku sempat kesulitan menyekolahkan anaknya di Sekolah Luar Biasa (SLB).

Dia menilai anaknya, Tata sulit berkomunikasi dengan teman sebayanya. Komunikasi yang sulit terjalin ini, menjadikannya merasa tak tega pada anaknya jika terus melanjutkan pendidikan di SLB.

“Kendala di teman-temannya. Kalau anak biasanya kan main sama teman-temannya. Ketika sama temennya obrolan ga nyambung, ketika mau ini anak tidak paham, dia maunya ini temannya enggak paham, itu jadi kasian sendiri melihat anaknya,” katanya.

Tugini menilai anaknya jauh lebih mandiri jika dibanding sebelum menuntut ilmu di Pondok Pesantren Darul Ashom. Sebelumnya, dia harus selalu berada di sisi sang anak sepanjang waktu.

Kini, Tata dinilai telah mandiri dan jauh lebih percaya diri saat bertemu dengan orang asing. Dia juga mengaku merasa sangat terbantu, lantaran pembiayaan pesantren yang bisa dibayarkan secara suka rela.

Tugini mengajak para orang tua yang memiliki anak tuli untuk tak patah semangat. Meski memiliki kekurangan, baginya anak tuna rungu tetap memiliki kesempatan yang sama dalam meraih cita-cita saat di dunia maupun di kehidupan yang akan datang.

“Sebelum di sini, minder. Takut ketemu orang. Sekarang, meskipun masih harus sama ibunya tapi tidak selalu. Anak tuli itu bisa sama dengan anak-anak yang lain, bisa berbaur, bisa bermasyarakat dengan anak-anak yang lain. Bagi orangtua jangan berputus asa dan jangan berkecil hati lah,” ungkapnya. (isa/dwi)

Sleman