RADAR JOGJA – Peristiwa penggunaan senapan angin menyisakan korban karena keteledoran terjadi di Moyudan, Minggu (19/6). Seorang anak di bawah umur, meminjam senapan angin temannya yang berisi peluru. Tak sengaja peluru itu terlepas saat mata senapan diarahkan ke dada korban. Menyebabkan korban terjatuh hingga meregang nyawa saat dilarikan ke rumah sakit.

“Kepemilikan senapan angin itu semestinya didaftarkan terlebih dahulu ke polsek (setempat, Red). Ada aturan Kapolri agar didatakan,” ungkap Kabid Humas Polda DIJ Kombes Pol Yuliyanto dihubungi Radar Jogja, Selasa (21/6).

Dia menjelaskan, tidak ada larangan setiap orang memiliki atau membeli senapan angin. Namun harus didatakan terlebih dahulu terkait kepemilikan senapan, pemahaman penggunaan senjata, sekaligus tujuan kepemilikan. Jangan sampai, senapan ini disalahgunakan hingga teledor dalam penggunaannya. Karena dapat menyebabkan fatal. “Tidak main-main seperti yang kemarin kejadian di Moyudan. Dia main-main tetapi ada pelurunya,” kata Yuli.

Dia pun menerangkan, ada beragam jenis peluru. Tetapi kekuatan jarak tembak berdasarkan berapa banyak pompaan pada senapan tersebut. Sepuluh kali pompaan dengan sekali pompa tentu saja kekuatannya berbeda. Potensi bahayanya juga berbeda. Pada peritiwa yang terjadi di Moyudan tersebut, diketahui jarak senapan dengan dada korban 1,5 meter, dengan pompaan sepuluh kali otomatis dampaknya dapat menimbulkan kematian.

Mengantisipasi hal ini terulang kembali, instansinya akan menggencarkan pendataan kepemilikan senapan angin melalui jajaran polsek. Bilamana masyarakat enggan mendaftarkan senapannya, maka tak segan jajarannya akan turun ke lapangan.

“Pendataan sasaran yang punya senapan maupun mereka yang tergabung dalam komunitas. Kita sudah sampaikan kepada kapolres untuk kapolsek mengadakan pendataan senjata senapan angin itu. Seharusnya, penggunaan peluru senapan ini bukan untuk berburu, melainkan untuk berolahraga,” tandasnya.

Sementara itu Kapolsek Moyudan AKP Estiqomah mengatakan, pihaknya masih melakukan penyelidikan atas kejadian tersebut. Menurutnya, selama ini belum ada masyarakat yang melaporkan kepemilikian senapan angin. “Masih proses penyelidikan. Belum ada (pendaftar data kepemilikan senapan, Red),” ungkapnya singkat. (mel/bah)

Sleman