RADAR JOGJA – Guna mencegah penularan wabah Penyakit Kaki dan Mulut (PMK) di Kapanewon Ngemplak, Sleman beberapa kandang sapi menerapkan aturan lockdown. Aturan ini diberlakukan untuk mengurangi lalu lintas orang yang dikhawatirkan membawa virus PMK dari lokasi lain.

Ketua Kelompok Tani Taruna Mandiri Minto Hartono menerapkan aturan dengan ketat. Hanya orang yang memiliki kepentingan di dalam kandang yang diperkenankan masuk. Di pintu gerbang kandang juga tertempel tulisan peringatan untuk tidak memasuki kawasan kandang.

“Kemarin saya pasang tulisan lockdown besar sekali. Saya kalau proteksi kandang ketat. Termasuk orang-orang luar tidak boleh masuk, kecuali orang-orang kandang,” jelasnya saat ditemui di kandang Kelompok Tani Taruna Mandiri, Ngalian, Widodomartani, Ngemplak, Sleman, Rabu (22/6).

Minto menjelaskan untuk proses jual beli ternak dilakukan secara online. Menurutnya, cara ini lebih efektif mengingat dapat meminimalisir mobilitas pedagang sapi atau blantik di dalam kandang. Cara ini menghindari ternak di dalamnya terjangkit PMK.

“Jualan online, lebih efektif dan tidak banyak lalu lalang orang-orang bakul sama blantik itu masuk kandang. Untuk keselamatan ternak saya. Ternak saya banyak yang asetnya kelompok. Itu yang untuk penanggulangan PMK,” katanya.

Dia memanfaatkan grup-grup percakapan peternak untuk menawarkan sapi. Meski calon pembeli diminta tak datang ke kandang, Minto membagikan dokumentasi berupa foto dan video untuk meyakinkan calon pembeli.

Saat ini, total terdapat 18 ekor sapi dari kandangnya yang telah laku via online dan masih tersisa 65 ekor lainnya. Sapi di kandangnya dijual dengan kisaran harga Rp. 23 juta hingga Rp. 35 juta.

“Untuk Idul Adha tahun ini memang sedikit berbeda karena ada PMK. Jadi mau tidak mau harus terapkan cara ini,” ujarnya.

Salah satu dokter hewan di Puskeswan Ngemplak Yeni Kurniawati berpesan agar pembatasan mobilitas berlangsung ketat. Virus PMK, lanjutnya, dapat menular secara langsung antar hewan ternak. Manusia juga berpotensi menularkan jika virus tertempel di tubuh.

Bahaya dari virus ini juga sifatnya yang airbone. Dalam artian menular melalui udara. Tak tanggung-tanggung, jaraknya bisa mencapai 10 kilometer.

“Kami mengimbau untuk lockdown kandang. Bermaksud untuk mambatasi lalu lintas orang terutama yang tidak berkepentingan. Kalau bukan anggota kandang itu tidak boleh masuk,” tegasnya.

Pihaknya mengimbau, agar transaksi hewan kurban tidak tiba-tiba. Pembeli terlebih dahulu membuat janji dengan peternak. Setelahnya datang sesuai waktu yang disepakati.

Transaksi paling efektif juga pagi hari. Dengan pertimbangan pembeli belum memiliki mobilitas tinggi. Sehingga selepas dari rumah hanya menuju kandang ternak.

“Harus pagi hari, dengan harapan pedagang atau pencari kurban tidak dari pergi ke mana-mana. Benar-benar berangkat dari rumah, mandi pagi, dan perjanjian sesuai jamnya. Kalau datang melewati jamnya harus tegas menolak atau perjanjian ulang lagi,” ujarnya. (isa/dwi)

Sleman