RADAR JOGJA – Aksi vandalisme di bangunan cagar budaya masih ditemukan di wilayah Sleman. Seperti adanya coretan yang mengotori cagar budaya jembatan rel kereta api Pangukan sejak awal 2022.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Sleman Edy Winarya menjelaskan, jembatan Pangukan ditetapkan sebagai cagar budaya berdasarkan Keputusan Bupati Sleman Nomor 14.7/Kep.KDH/A/2017. Hanya saja, status kepemilikan dan pengelolaan cagar budaya jembatan Pangukan berada di bawah kewenangan PT Kereta Api Indonesia. “Namun tidak semua kepemilikan dan pengelolaannya milik pemda, termasuk rel Pangukan,” jelasnya kemarin (18/5).

Dia berharap, ke depan akan ada identitas dan tulisan yang jelas untuk bangunan cagar budaya. Sebab, barangkali masyarakat memang tidak mengetahui dan asal mencoret. Meski begitu, dia tidak membenarkan aksi vandalisme yang ada. “Maraknya vandalisme terhadap cagar budaya merupakan sebuah keprihatinan bersama. Aksi tersebut dikategorikan perusakan karena tidak menghargai nilai penting cagar budaya,” ujarnya.

Dia pun menegaskan, pelaku vandalisme dapat dikenai sanksi hukuman penjara. Paling singkat satu tahun, dan paling lama 15 tahun. Selain itu, mereka juga diancam dengan hukuman denda minimal Rp 500 juta dan maksimal Rp 5 miliar. Hal tersebut sesuai dengan UU Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.

Edy pun mengajak masyarakat untuk berperan aktif menjaga bagunan sejarah dan cagar budaya. Dengan cara melapor saat menemukan aksi tidak terpuji itu. “Nanti kami akan menindaklanjuti dan menginventarisasi sesuai urgensinya masing-masing,” katanya.

Diketahui, jembatan yang menghubungkan Beran dengan Cebongan ini dibangun oleh Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) pada 1896. Difungsikan sebagi sarana transportasi manusia maupun barang dengan jalur Jogja-Magelang. (cr4/eno)

Sleman