RADAR JOGJA – Isu sampah beberapa waktu terakhir menjadi pembahasan yang santer terdengar di tengah masyarakat. Apalagi, warga di sekitar TPST Piyungan sempat menutup akses jalan agar sampah-sampah tak lagi bisa dibuang di sana.

Ditengah permasalahan sampah yang tak kunjung usai ini, Hijrah Purnama mampu menyulap sampah plastik menjadi pundi-pundi rupiah. Warga Kabupaten Sleman ini mengolah sampah-sampah plastik kemasan. Diawali 2008, dia bersama temannya membangun Project B Indonesia di Condongcatur,Depok Sleman.

Tak tanggung-tanggung, kurang lebih satu ton sampah plastik kemasan mampu diolah oleh Project B Indonesia dalam setahun. Disulap menjadi tas, dompet, gantungan kunci dan produk lainnya. Semuanya dibanderol dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp. 8 ribu hingga Rp. 200 ribu.

“Pada 2021, perbulan bisa mencapai 100 kilogram sampah yang disetorkan kepada Project B Indonesia melalui sistem donasi. Kami pernah dapat yang lebih besar sebelum pandemi mencapai 150 kilogram perbulannya, kalau pertahun sekitar satu ton. Itu mampu dikonversi menjadi 250 sampai 300 produk yang terjual. Sementara yang diproduksi bisa mencapai 500 hingga 700 produk,” jelasnya saat dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (16/5).

Sebelum mengolah, seluruh sampah akan dipilah terlebih dahulu. Diantaranya yakni sampah kemasan plastik yang tidak tercampur oleh sampah-sampah organik lainnya. Para pendonor sampah diminta untuk memberikan sampah dengan potongan yang rapi.

Konsep ini bertujuan mengajak masyarakat bertanggungjawab terhadap sampahnya masing-masing. Terutama dalam mengolah sampah menjadi nilai guna. Sehingga tidak sekadar membuang atau memindahkan sampah semata.

“Jangan tercampur, harus sesuai dengan yang kami butuhkan. Kalau tidak berarti masyarakat hanya memindahkan sampah dari rumah mereka ke tempat kami saja. Padahal di kami belum tentu bisa mengolah jenis sampah di luar spesifikasi yang kami butuhkan,” katanya.

Hijrah mengajak masyarakat untuk mulai peduli terhadap lingkungan. Caranya, dengan melakukan pengolahan sampah setidak-tidaknya sampah yang berada di rumah.

Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk kompos. Sementara sampah anorganik bisa disetorkan kepada bank-bank sampah terdekat. Baginya ini bukanlah hal yang sulit dilakukan. Apalagi saat ini cara-cara pengelolaan sampah dapat dengan mudah diakses melalui sosial media.

“Kita harus bangkit untuk berani mengolah sampah kita. Organiknya diolah di rumah, anorganiknya kalau tidak bisa diolah cari referensi bank sampah terdekat. Ada layanan aplikasi yang bisa didapatkan di Sleman, tinggal pencet lewat handphone kemudian pengepulnya datang ke rumah untuk ambil sampah tersebut,” ujarnya. (isa/Dwi)

Sleman