RADAR JOGJA – Sampah menggunung efek dari penutupan paksa Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan membuat banyak warga ambil jalan pintas dengan membakar sampah. Pemerintah kabupaten Sleman secara tegas melarang warganya membakar sampah.

“Kalau sampah kondisi dibakar yang terjadi pembakaran tidak sempurna dan efeknya gas rumah kaca. Nah ini yang akan merusak ozon kita,” ujar Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman Epiphana Kristiyani kemarin (11/5).

Tidak main-main, banyak penelitian ilmiah menyebutkan sampah yang dibakar berakibat buruk bagi kesehatan manusia dan kerusakan alam akibat efek rumah kaca. Jangka panjangnya lapisan ozon rusak, global warming, perubahan iklim dan yang terparah kepunahan alam semesta. “Kami tetap mengimbau masyarakat jangan membakar sampah,” imbuhnya.

Kabupaten Sleman sendiri telah lama menaruh keseriusan terhadap masalah sampah. Larangan pembakaran sampah sudah diatur dalam Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2015 tetang pengelolaan sampah rumah tangga.
Secara jelas pada bagian kedua dalam Perda pasal 49 menyebutkan larangan membakar sampah di tempat terbuka yang dapat menimbulkan polusi dan/ atau menganggu lingkungan.

Solusi saat ini yang bisa diberikan ihwal permasalahan sampah menumpuk ujung dari penutupaan TPST Piyungan adalah dengan memilahnya. Masyarakat diajak bijak dalam menyampah. “Jangan dibakar, dipilah kan pengelolaan lebih mudah. Organik dibuat kompos. Kami sejak lama sosialisasi. Lalu anorganik bisa jadi rosok,” ujar Epi.

Selanjutnya untuk mengurangi sampah terutama anorganik, direncanakan ada pembatasan penggunaan plastik. Metode ini sudah dilakukan di kota-kota besar di Indonesia seperti Bali dan Jakarta. Sejauh ini lumayan berhasil mengurangi sampah plastik.

“Kami akan keluarkan peraturan bupati membatasi penggunaan plastik sekali pakai dan bahan tidak ramah lingkungan. Segera akan kita keluarkan perbupnya untuk membatasi penggunaan bahan-bahan itu,” jelasnya.
Terpisah, ketua PHRI Sleman Joko Paromo mengatakan sampah di sektor perhotelan dan restoran cenderung dapat diatasi dengan baik.

Ia mengatakan manajemen sampah sudah dipikirkan oleh pengelola hotel sejak pembangunan. Terutama hotel yang berbintang. “Kan nek sampah hotel kebanyakan sisa makanan kan bisa untuk pakan (makanan, Red) babi atau ternak. Kebanyakan sampah basah. Sudah alokasi. Basah kering di-manage semua,” jelasnya. (cr4/bah).

Sleman