RADAR JOGJA – Lepas dari harapan kunjungan meningkat selama lebaran, desa wisata optimis menyambut proyek strategis nasional jalan tol. Adanya tol, memudahkan  terhubungnya kota metropolitan dan Jogjakarta. Sehingga dengan jarak tempuh yang lebih cepat, semakin menarik wisatawan berkunjung ke Jogjakarta.

“Itu peluang yang kami tangkap,” ungkap Ketua Forum Komunikasi Desa Wisata Kabupaten Sleman Ageng Wijaya, belum lama ini. Dia yakin, adanya tol yang menghubungkan lintas selatan Pulau Jawa desa wisata akan kebagian kue wisatawan.

“Cara pandangnya begini,” ungkap Ageng memulai menjelaskan. Jarak orang Jakarta ke Jogja bila ditempuh jalur umum sekitar 500 kilometer (km). Jarak ini dapat ditempuh kurang lebih 12 jam perjalanan darat. Namun, bila tol sudah terbentuk, estimasi jarak tempuh semakin cepat 100 km per jam. Prediksinya sepertiga lebih cepat, antara 8-10 jam. Dengan perjalanan yang lebih pendek ini memungkinkan biaya perjalanan darat lebih murah sehingga akan menarik wisatawan yang berkunjung ke Jogja.

“Hal ini menjadi momen mempersiapakan diri mengembangkan desa wisata sebaik mungkin agar memiliki unit selling. Dan saya yakin pangsa pasar wisatawan beragam,” bebernya.

Dengan biaya tinggal yang cenderung lebih murah dibandingkan hotel, menjadi poin plus desa wisata untuk menyediakan paket wisata sekaligus homestay, untuk menarik lama tinggal pengunjung. Meski prosesnya pembangunannya masih menunggu satu sampai dua tahun tol selesai, menurutnya ini menjadi momentum desa wisata berbenah. Meningkatkan kualitas desa wista dan sumber daya manusia.

Hal senada di sampaikan Ketua Desa Wisata Sundari, Tirtoadi, Mlati Sleman Paidi. Adanya tol menurutnya menjadi angin segar bagi pelaku usaha kerajinan bambu di di Sundari. Dalam rangka menyongsong PSN tol di Kalurahan Tirtoadi, pihaknya bersama jajaran stakeholder setempat telah berkoordinas. “Dari pemerintah, kalurahan ada rencana  menyusun showroom dalam satu ruangan, yang dapat disaksikan langsung oleh wisatawan tanpa takut apabila kehujanan,” kata Paidi.

Kerajinan bambu dapat menjadi cindera mata khas Sleman yang dapat dijajakan kepada wisatawan nantinya. Adapun jumlah pelaku industri kerajinan dilokasi ini ada 21, sementara pengrajin asli Sundaei totalnya ada  70 orang. (mel/pra)

Sleman