RADAR JOGJA – Kepala Stasiun Meteorologi BMKG DIJ Warjono meminta masyarakat waspada akan terjadinya cuaca ekstrem. Kondisi ini diprediksi berlangsung dalam beberapa bulan kedepan. Cirinya pagi dan siang hari panas lalu berubah total menjelang sore hari.
Pertumbuhan awan hujan atau cumolonimbus, lanjutnya, bisa terjadi sewaktu-waktu. Termasuk potensi kemunculan dari sebelah kanan dan kiri lereng Gunung Merapi. Level ekstrem adalah hujan deras disertai angin dan petir, serta potensi terjadinya hujan es.
“Kalau pertumbuhannya (awan) di sebelah kanan dan kiri lereng itu memang di wilayah Sleman hampir semua. Ada Turi, kalau yang di timur dari Prambanan,” jelasnya saat jumpa pers di Ruang Sembada Setda Sleman, Jumat (1/4).
Sementara itu, Warjono menambahkan pada malam hari justru wilayah selatan yang harus diwaspadai. Ini karena pada siang dan malam hari memiliki pola yang berbeda.
“Kalau malam cenderung di daerah selatan, tapi akan berkembang ke utara. Tapi kalau siang hari cenderung dari utara ke selatan. Beda, jadi polanya siang dan malam berbeda,” tambahnya.
Dia menjelaskan pada siang hari awan potensi hujan berada di lautan. Sehingga pada dini hari dan pagi hari hujan akan turun di wilayah selatan DIJ seperti Kulonprogo dan Gunungkidul.
Warjono mengimbau kepada masyarakat untuk terus waspada terhadap perubahan cuaca yang sangat cepat. Hal ini dinilai dapat meningkatkan kemungkinan masyarakat mengalami dehidrasi. Apalagi saat ini menjalani ibadah puasa.
“Menjelang bulan ramadan tetap harus waspada terhadap pola cuaca di DIJ. Dipagi hari hingga siang akan mengalami panas cukup tinggi sehingga akan terasa lebih panas, walaupun siang atau sore ada potensi hujan. Dari perubahan yang cepat ini perlu waspada karena kita cenderung akan dehidrasi. Ketika hujan pun akan terasa panas,” imbaunya. (isa/Dwi)

Sleman