RADAR JOGJA – Para pelaku industri konveksi bordir di Sentra Joho, Condongcatur, Depok, Sleman mampu memproduksi barang dalam jumlah besar. Sehari bisa ribuan produk.

Sempat terpuruk selama pandemi Covid-19, kini mereka mulai bangkit. Meskipun masih mengalami kendala pemasaran produk dan modal.
Hal itu terungkap dalam acara Sambang Industri Kecil Menengah (IKM) Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sleman, Kamis (31/3).

Terkait hal tersebut, Ketua Umum Dekranasda Sleman Drs H. Sri Purnomo MSi menyarankan agar para pengrajin konveksi bordir memperluas jaringan. Baik antar sesama pengrajin, Dekranasda, dan pemerintah. “Dari kolaborasi itu Insya Allah saling menguntungkan,” tuturnya.

Bupati Sleman periode 2010-2020 itu sangat apresiatif atas tingginya produktivitas pengrajin konveksi bordir Joho. Bahkan, kualitas produknya tak kalah dengan Bandung dan Jakarta. Hanya, harga jualnya lebih murah.

Oleh karena itu, lanjut Sri Purnomo, Dekranasda Sleman siap membantu promosi produk Joho. Agar lebih dikenal luas dan makin lairs. Sehingga ke depan harga jualnya pun bisa bersaing dengan produk daerah lain. “Terlebih jelang Lebaran nanti tentu orderan pakaian tentu akan laku keras,” ucapnya.

Ketua Harian Dekranasda Sleman Ir H. Abdul Kadir MH menambahkan, pengembangan usaha membutuhkan sinergitas yang baik. Untuk itu, Abdul Kadir mengimbau para pengrajin bordir tidak ragu berkolaborasi dengan Dekranasda. “Silakan pajang produk konveksi Joho di ruang pamer kantor Dekranasda. Untuk promosi. Semua gratis. Kami beri kesempatan untuk kurasi produk,” ujarnya.

Untuk membantu permodalan, Dekranasda Sleman juga memiliki program dana bergulir usaha mikro kecil menengah (UMKM). Dengan bagi hasil hanya tiga persen. Kecilnya sharing, menurut Kadir, bukan untuk bersaing dengan perbankan. Tapi karena untuk pembinaan UMKM. “Tapi tetap harus ada kolateralnya sebagai bentuk tanggung jawab,” jelas Kadir.

Ketua Sentra Industri Konveksi Bordir Joho Supriyanto mengaku, setiap malam mampu memproduksi seribu topi. Kendati demikian, dia ingin terus meningkatkan produksinya. Namun, dia butuh tambahan modal untuk pengembangan usaha. “Selain modal, regenerasi tenaga kerja juga menjadi kendala,” ungkapnya.

Sedangkan Ramelan, produsen sandal hotel, mengklaim bisa memproduksi enam ribu pasang sandal dalam sehari. Mulai pemotongan bahan, menjahit, hingga pengepakan.

Pangsa pasar produknya tersebar di hampir seluruh kota di Indonesaia. Namun, dia justru kesulitan memasarkan produknya secara langsung di hotel-hotel wilayah Jogjakarta. “Sebagian besar hotel itu kalau bayar pasti tempo minimal satu bulan setelah terima barang,” ungkapnya.

Agar modal bisa berputar lebih dinamis, Ramelan lantas mengandalkan suplier. Sehingga dia bisa mendapat pembayaran tunai setiap kali penjualan.

Ternyata, dengan langkah itu muncul masalah baru. Karena suplier menjual sandal di bawah harga standar produsen. “Saya jual Rp 2.500 sepasang sandal. Suplier pasang harga Rp 2.000 – Rp 2.200. Kalau begitu terus saya kesulitan bayar pegawai,” keluhnya.(yog)

Sleman