RADAR JOGJA – Demi meraih ketenangan hati, Teguh Mukti Widodo nekat bersepeda hingga Sabang Banda Aceh. Rutenya tak main-main, pria berusia 61 tahun ini bersepeda dari kediamannya di Klaten, Jawa Tengah. Berangkat sejak 21 Desember 2021 dan tiba di Aceh pada 18 Februari 2022.

Setibanya di Aceh, dia menyempatkan singgah ke sejumlah tempat. Salah satunya masjid Baiturrahman Banda Aceh. Ditempat itu dia merenung dan beribadah dengan khusyuk. Merefleksikan perjalanan hidupnya selama ini.
“Saya ke Aceh ke (masjid) Baiturahman bukan ke titik nolnya. Itu pertaruhan harga diri saya apakah saya mampu dengan kemampuan ini. Tetapi Allah SWT melindungi saya,” jelasnya saat singgah di markas Gezeh Touring Community Condongcatur Depok Sleman, Rabu (30/3).
Teguh mengakui perjalanan menuju Aceh bukanlah sesuatu yang mudah. Dia harus berjuang seorang diri melawan rasa takut saat di jalan. Melawan dinginnya malam dan terik panas matahari di siang hari.
Uniknya selama perjalanan, beban demi beban perlahan luntur. Teguh justru merasa tak kedinginan maupun kepanasan. Dia menganggap ini adalah bentuk perhatian sang pencipta kepada dirinya.
“Padahal saya jalan 100 meter aja enggak mampu sebenarnya. Orang pun tidak percaya tapi alhamdulillah saya bisa ke Aceh,” katanya.
Teguh mengaku sejatinya bukanlah goweser atau pecinta olahraga sepeda. Bahkan pada awalnya dia tak terlalu mahir dalam mengayuh sepeda. Hingga akhirnya memiliki keyakinan yang teguh untuk menjalani perjalanan ke Banda Aceh.
Sepeda kayuh miliknya baru dibeli menjelang perjalanan tur ke Aceh. Setelahnya dia sempat belajar mengayuh rute pendek. Pada awalnya rute yang dia tempuh hanya bisa sejauh 1,5 kilometer.
“Saya sebenarnya bukan pegowes tapi orang biasa yang tidak memiliki kemampuan bersepeda. Terus saya beli sepeda Rp. 570 ribu. Kalau aaya nggak mampu ke Aceh dengan sepeda akan jalan kaki,” ceritanya.
Ketekunan dan keyakinan yang kuat membuat Teguh semakin semangat dalam mengayuh sepeda miliknya. Dari awalnya 1,5 kilometer hingga bisa berpuluh-puluh kilometer.
Dia sempat pingsan saat masih mencapai Jatinom Klaten. Hingga akhirnya ditolong warga dan diberi minum teh hangat dan biskuit. Setelah bugar dia melanjutkan perjalanan ke Semarang Jawa Tengah selama 2 hari. Uniknya bukan dengan kayuhan sepeda tapi 60 persen jalan kaki.
Dari ibukota Jawa Tengah dia menuju Kendal. Selanjutnya menuju Batang dengan mengayuh sepeda. Ditempat ini dia mendapatkan dukungan dari warga. Aksinya telah diketahui oleh warga khususnya komunitas sepeda.
“Iya saya ke Semarang itu jalan kaki, hampir 60 persen. Lalu Semarang sampai Kendal, begitu di Batang saya dikenal publik orang mulai kenal,” kisahnya.
Kendala perjalanan Teguh tak hanya rintangan di jalan. Kiriman uang dari adiknya berhenti. Ini dia ketahui setelah tiba di Lampung. Saat mengecek anjungan tunai mandiri tak ada dana sepeserpun yang masuk.
Saat berangkat dia hanya memiliki uang saku sebesar Rp. 185 ribu. Masih ditambah uang di tabungan miliknya sebanyak Rp. 1,5 juta. Hanya saja semuanya habis saat tiba di Lampung.
“Handphone saya ilang, 2 hari uang habis. Sempat terbesit kembali. Tapi jangan pernah sekali tidak percaya dengan Allah semuanya pasti terjadi. Akhirnya tetap lanjut,” katanya.
Total Teguh menempuh perjalanan selama 3 bulan 8 hari. Selama perjalanan sepeda miliknya berganti ban luar sebanyak 1 kali. Sementara untuk ban luar sebanyak 3 kali. Kerusakan terparah justru saat perjalanan pulang dan tiba di Gamping, Sleman, Jogjakarta.
Selama perjalanan, Teguh lebih kerap istirahat di Masjid. Tak jarang pula numpang tidur di SPBU, rumah warga hingga warung makan. Pernah pula tidur di emperan toko saat tak ada tempat untuk bernaung.
“Cuma bawa celana 4 kaos 4, selimut sama sarung celana panjang. Ganti ban belakang 1 kali, ban dalam 3 kali. Tadi laher belakang hancur pas sampai Gamping,” ujarnya.
Setelah ini dia justru tak ingin langsung istirahat di rumah. Jarak rumah dengan tempat istirahatnya saat ini sejatinya dekat. Teguh mengaku bisa menempuh waktu 30 menit untuk pulang ke rumah.
Dia mengaku akan mampir masjid di dekat kediamannya di Klaten Jawa Tengah. Beristirahat selama 30 menit dan menemui istrinya. Setelahnya lanjut lagi perjalanan menuju Kalimatan, Sulawesi dan Indonesia sisi timur.
“Mungkin setelah nanti dari sini saya pulang ke Klaten cuma 30 menit ke Masjid Aqsa ketemu istri juga. Berapa hari akan saya teruskan perjalanan ke Mandalika, Toraja, IKN mungkin sampai Waringin,” katanya.
Ditanya tujuan, Teguh mengaku hanya ingin memenangkan diri. Dia akan menjalani safari ramadan selama perjalanan. Mengunjungi masjid-masjid dalam perjalanannya.
“Saya safari ramadan masjid ke masjid. Saya amat bahagia. Tidak ada target karena terserah Allah saja. Ini kekuatan ngasih kekuatan saya lagi. Kita tidak tahu hari ini hari esok,” tutupnya. (Dwi)

Sleman