RADAR JOGJA – Ketua Komunitas Siaga Merapi (KSM) Glagaharjo Rambat Wahyudi menuturkan warga mulai kembali ke rumah sekitar 06.00 WIB. Saat ini situasi di barak pengungsian Glagaharjo sudah sepi. Walau begitu tetap siaga mengantisipasi erupsi Merapi.
Warga yang menghuni barak pengungsian mayoritas lansia, balita, anak-anak dan ibu-ibu. Total ada 193 warga yang awalnya sempat mengungsi ke barak pengungsian.

“Dirasa sudah kondusif mereka pulang. Tapi ya tetap kami imbau untuk meningkatkan kewaspadaan karena kan enggak tau alam,” jelasnya, Kamis (10/3).

Saat kejadian, warga, lanjutnya, memutuskan evakuasi secara mandiri. Ini karena adanya trauma atas erupsi Merapi sebelumnya. Pertimbangan utama adalah faktor keamanan warga Kalitengah Lor.
Persiapan evakuasi berlangsung cepat. Pasca erupsi pertama, warga sudah bersiap-siap turun. Saat kejadian erupsi Merapi kedua warga sudah mengungsi di barak pengungsian Glagaharjo.
“Iya mengungsi ke sini mandiri, pulang mandiri. Ada sebagian kecil lansia yang enggak punya kendaraan tetap kami antar, kemarin kita jemput terus tadi kita antar,” katanya.

Jarak luncuran 5 kilometer dari puncak membuat warga turun ke barak pengungsian. Dusun Kalitengah Lor sendiri berjarak kurang lebih 5 kilometer dari puncak Merapi. Sementara barak pengungsian berjarak 12 kilometer dari puncak Merapi.
“Karena jarak luncurnya kan 5 kilometer kan itu dikhawatirkan awan panas sampai ke pemukiman. Yang paling dikhawatirkan kan awan panasnya,” ujarnya.

Kondisi barak pengungsian tetap siap sewaktu-waktu. Sekat-sekat juga masih terpasang sebagai wujud protokol kesehatan. Warga, lanjutnya, bisa mengungsi apabila kondisi Merapi meningkat sewaktu-waktu.
“Sebelum pulang kami imbau tetap meningkatkan kewaspadaan terus tidak mencari rumput atau apa di zona-zona larangan yang ditetapkan BPPTKG,” katanya. (dwi/ila)

Sleman