RADAR JOGJA – Panewu Cangkringan Djaka Sumarsana memastikan wisata kawasan Merapi tutup sementara waktu. Terutama yang berjarak radius 5 kilometer dari puncak Gunung Merapi. Seperti wisata Bukit Klangon di Kalurahan Glagaharjo, Petilasan Mbah Maridjan di Kalurahan Umbulharjo dan Bungker Kaliadem di Kalurahan Kepuharjo.
Pertimbangan utama adalah jarak yang terlalu dekat dari puncak Gunung Merapi. Terlebih luncuran awan panas guguran kali ini mencapai jarak 5 kilometer dari puncak. Ketiga lokasi tersebut masuk dalam jangkauan atau berdekatan dengan jarak batas aman.

“Untuk wisata Klangon dan Bungker Kaliadem sementara aksesnya ditutup terlebih dahulu. Karena ini kejadiannya juga tadi malam mendadak, kita antisipasi jangan sampai nanti ada kejadian susulan,” jelasnya ditemui di Dusun Kaliadem, Kalurahan Kepuharjo, Kapanewon Cangkringan, Kamis (10/3).

Pihaknya juga mengantisipasi munculnya wisata dadakan di lokasi erupsi. Terutama di kawasan Bungker Kaliadem. Diketahui bahwa material awan panas guguran mencapai lokasi tersebut. Tepatnya mencapai hulu Sungai Gendol Cangkringan.
Djaka berkoordinasi dengan jajaran Polsek dan Koramil Cangkringan. Untuk melakukan penjagaan di setiap pintu masuk. Selain dijaga, akses jalan masuk juga ditutup dengan portal.
“Untuk akses jalan masuk kami tutup, contoh seperti di Bungker Kaliadem, Ngrangkah Petilasan Mbah Maridjan ke utara ke timur itu juga sudah kita instruksikan untuk ditutup. Terus kemudian untuk Klangon juga karena jaraknya paling dekat itu untuk sementara ditutup terlebih dulu,” tegasnya.

Para lurah, lanjutnya, telah bergerak untuk mengamankan wilayah. Untuk selanjutnya menunggu pula kebijakan dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Berupa surat resmi penutupan sementara kawasan wisata di puncak Merapi.
“Nanti kami menunggu surat rekomendasi dari bupati Sleman untuk penutupan tempat wisata, kalau kami sekarang sifatnya imbauannya. Tetapi alhamdulillah semua lurah sudah laporan kepada kami A1 semua ditutup. Jadi tidak boleh ada yang masuk terlebih dulu, antisipasi kalau ada susulan dan ada korban jiwa yang tidak kita harapkan,” katanya.

Kebijakan yang sama juga berlaku untuk kawasan penambangan di ketiga Kalurahan. Khususnya yang berada di aliran sungai berhulu Gunung Merapi. Selain bahaya erupsi juga kiriman lahar dingin saat hujan.

Berdasarkan pantauan Radar Jogja di lapangan, sisi timur bungker Kaliadem terdapat material erupsi. Memiliki kedalaman sekitar 20 hingga meter. Selain panas, material juga mengeluarkan bau belerang.
“Jadi itu sebetulnya untuk material masih panas, informasi dari pak lurah itu harus menunggu 2 sampai 3 bulan baru berani diangkat. Karena walaupun nampak luar dingin tapi dalamnya itu panas. Jarak titik ini 5 kilometer dari puncak,” ujarnya.

Djaka memastikan tak ada alat berat atau truk yang tertimbun material erupsi. Ini karena lokasi pertambangan pasir sedang tak ada aktivitas. Seluruh alat berat juga dievakuasi dari lokasi penambangan.
“Waktu kqmi naik ke sini, sudah terlihat beberapa truk yang mengangkut alat berat karena tidak memungkinkan kegiatan untuk dilaksanakan untuk sementara ini. Nihil, tidak ada alat berat tertimbun, korban jiwa juga tidak ada,” katanya.
Uniknya lokasi erupsi ini justru menjadi wahana wisata baru. Tidak sedikit warga yang mendatangi lokasi sisi timur bungker Kaliadem. Tak hanya dari bukit tapi mendatangi langsung limpahan material erupsi Gunung Merapi.
Salah satunya adalah Andika. Warga Kaliadem ini mengaku penasaran atas material erupsi Gunung Merapi. Alhasil dia dan teman-temannya berjalan melintas hingga sisi tengah sungai Gendol.
“Penasaran saja. Iya ini masih panas, sampai badan-badan itu terasa panas,” ujarnya.
Andika mengaku sempat mendengar dentuman erupsi Gunung Merapi. Terjadi sekitar 23.30, Rabu malam (9/3). Hanya saja dia dan keluarganya memilih untuk tetap bertahan di rumah dan tidak mengungsi.

“Seperti truk bakdam itu nyuntak pasir, kemrosoklah. Sekitar jam setengah 12 malam. Sekarang saya lihat ya penuh (material Merapi). Kemarin kan dalem itu (Sungai Gendol), bawah itu dalem. Kemarin sekitar 20an meter lah (kedalaman) sekarang sudah penuh. Ini juga bau belerang,” katanya. (dwi/ila)

Sleman