RADAR JOGJA – Badan Geologi melalui PVMBG-BPPTKG mencatat pada Rabu malam (9/3) pukul 23.18 terjadi rentetan awan panas guguran di Gunung Merapi. Hingga Kamis pagi (10/3) tercatat terjadi sebanyak 16 kali awan panas guguran dengan jarak luncur maksimal kurang lebih 5 km. Awan panas ini mengarah ke Tenggara tepatnya di alur Kali Gendol. Akibatnya, sempat terjadi hujan abu di beberapa tempat terutama di sisi barat laut Gunung Merapi sejauh maksimal 13 km.

Kepala BPPTKG-PVMBG-Badan Geologi, Hanik Humaida menjelaskan saat ini aktivitas Gunung Merapi terpantau masih tinggi. Hal ini dibuktikan denhan guguran yang terjadi rata-rata 140 kali dalam sehari.

“Aktivitas vulkanik internal juga masih tinggi. Ditunjukkan oleh data seismisitas dan deformasi,” jelas Hanik melalui sambungan zoom, Kamis (10/3).

Hanik menambahkan saat ini aktivitas vulkanik Gunung Merapi ditetapkan pada tingkat “Siaga”. Sementara untuk potensi bahaya saat ini yakni berupa guguran lava dan awan panas di arah selatan hingga barat daya. Wilayah ini meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, dan Sungai Bedig, Krasak, serta Bebeng sejauh maksimal 7 km.

“Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak,” tambah Hanik.

Hanik mengimbau kepada pemerintah kabupaten di sekeliling Gunung Merapi yakni Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten untuk melakukan upaya-upaya mitigasi. Masyarakat pun diminta untuk selalu waspada akan abu vulkanik dan bahaya lahar terutama saat hujan di seputar Gunung Merapi.

“Masyarakat agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya. Diimbau juga masyarakatbuntuk selalu mengikuti informasi aktivitas Gunung Merapi dari sumber terpercaya dan mengikuti rekomendasi dari Badan Geologo, Pemerintah Daerah, dan BPBD setempat,” ujar Hanik. (isa/ila)

Sleman