WASWAS: Suasana perkampungan Padukuhan Kalitengah Lor pasca pulang dari pengungsian akibat aktivitas Merapi kemarin (10/3). MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA

RADAR JOGJA – Warga Padukuhan Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, masih diselimuti rasa waswas meski sudah bersahabat dengan Merapi. Pasalnya, kejadian guguran awan panas yang diikuti material lava pijar pukul 00.00, dini hari kemarin (10/3) mencapai 5 km ke arah tenggara. Berdekatan dengan padukuhan ini.

“Jarak guguran awan panas ini merupakan terpanjang pasca 2010. Kami langsung bergegas mengungsi,” ungkap Wanti, 50, warga RT 2, Padukuhan Kalitengah Lor saat ditemui di rumahnya, kemarin (10/3).

Mayoritas warga di RT paling dekat dengan puncak Merapi ini secara mandiri mengevakuasi diri, mengungsi ke Kantor Kalurahan Glagaharjo radius 12 Km dari puncak Merapi. Selain membawa diri beberapa waga juga membawa surat berharga yang telah tersimpan rapi dalam tas. Terutama lansia, balita, dan ibu hamil. Dievakuasi lebih dulu, sebagian juga naik pikap milik warga setempat.

“Tadi pagi juga ada guguran lagi, kira-kira sekitar pukul 08.00. Saat ini kondisi material di Sungai Gendol masih panas, mengeluarkan asap,” sahut Mugi, 44, suami Wanti.

Menurutnya, guguran awan panas kemarin berlangsung tiba-tiba. Gemuruh terdengar keras pukul 23.00 dan tak selang lama guguran awan panas terjadi. “Gelombang HT saya berbunyi melengking, pertanda waspada Merapi,” kata Mugi.

Dijelaskan, bunyi ini merupakan sirene bahwa kondisi Merapi sedang tidak baik-baik saja. “Artinya ada tanda bahaya,” terangnya.

Warga Kalitengah Lor sempat mengungsi, kendati begitu sekitar pukul 07.00 mereka kembali ke rumah masing-masing. Beraktivitas seperti biasa dan mengurus ternak. Meski diterpa rasa waswas, Wanti dan suaminya masih mencari rumput di radius 5 Km, tepatnya di sekitar Wisata Bukit Klangon yang kini telah ditutup. “Kami terus pantau informasi perkembangan kondisi Merapi lewat HT,” ucap Mugi.

Jogoboyo (Kasi Pemerintahan) Kalurahan Glagaharjo, Cangkringan Heri Prasetyo menyebutkan, sebanyak 193 warga di Padukuhan Kalitengah Lor dan Padukuhan Kalitengah Kidul sempat mengungsi di Aula Kalurahan dan Barak Pengungsian Glagaharjo. Jumlah itu terdiri atas 38 lansia, 40 balita, satu ibu hamil dan 114 orang dewasa.

Untuk mengantisipasi potensi erupsi Merapi, Pemerintah Kalurahan Glagaharjo berkoordinasi dengan tokoh masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Disebutkan, tiga padukuhan sebagai zona rawan. Yaitu, Padukuhan Kalitengah Lor dengan total penduduk 182 kepala keluarga (KK), Kalitengah Kidul (125 KK) dan Srunen (160 KK). Adapun padukuhan penyangga seperti Padukuhan Banjarsari, Besaren, dan Ngancar.

“Sesuai kesepakatan bila aktivitas Merapi meningkat lagi, warga diminta tetap fokus berkumpul di titik tertentu, menunggu penjemputan untuk evakuasi,” ungkapnya. Warga diminta untuk tidak terlalu panik dan tetap tenang.

Untuk warga yang tinggal di padukuhan bawah, dilarang naik ke atas. Koordinasi ini sudah disampaikan melalui penanganan risiko bencana, dukuh dan RT setempat. “Mayoritas warga saya kira sudah paham,” tambahnya.

Persiapan dari kalurahan, telah menyiapkan barak pengungsian yang masih disekat. Kemudian menyiapkan armada pengangkut bila sewaktu-waktu dibutuhkan. “Kami juga berkoordinasi dengan BPBD Sleman dan memantau perkembangan Merapi,” terangnya.

Kepala Pelaksana BPBD Sleman Makwan mengatakan, status aktivitas Merapi berada di level III atau siaga. Berdasarkan hasil koordinasi dengan Badan Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) DIJ, hingga kemarin siang aktivitas Merapi sudah melandai.

Sebelumnya, awan panas guguran tercatat di seismogram dengan amplitudo maksimal 75 milimeter dan durasi maksimal 570 detik. Pasca kejadian awan panas guguran, kegempaan didominasi oleh gempa-gempa guguran.

“Kami pantau terus perkembangan aktivitas Merapi dan dampaknya. Beberapa objek wisata seperti Bunker Kaliadem, Kalurahan Kepuharjo dan Wisata Bukit Klangon kami tutup. Termasuk tiga pertambangan PT legal, karena situasi bahaya Merapi,” katanya.

Potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan sampai barat daya. Ini meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km dan Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km. Pada sektor tenggara, meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km. Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Masyarakat diminta tidak melakukan kegiatan apa pun di daerah potensi bahaya, mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik dari erupsi Merapi, serta mewaspadai bahaya lahar terutama saat terjadi hujan di seputar Merapi. “Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka status aktivitas Gunung Merapi segera ditinjau kembali,” beber Makwan. (mel/laz)

Sleman