RADAR JOGJA – Komnas HAM membenarkan adanya penyiksaan warga binaan di Lapas Narkotika Kelas II A Jogjakarta. Pernyataan ini berdasarkan penyidikan kepada warga binaan, sipir dan pegawai Lapas lainnya. Penyiksaan berlangsung dengan tangan kosong, dengan alat kelamin sapi hingga diinjak dengan sepatu PDL. 

Temuan lain adalah warga binaan diminta untuk meminum dan mencuci muka dengan air seninya sendiri. Tujuan dari penyiksaan-penyiksaan ini agar mental warga binaan jatuh. Sehingga tidak melawan dan menuruti semua peraturan di dalam lapas.

“Terdapat minimal 16 titik tempat lokasi terjadinya penyiksaan antara lain branggang tempat pemeriksaan pertama saat WBP. Blok isolasi pada kegiatan mapenaling, blok Edelweis, lapangan setiap blok-blok tahanan WBP, aula bimbingan kerja, kolam ikan lele, ruang P2U, dan lorong-lorong blok,” jelas Pemantau Aktivitas HAM Wahyu Pratama Tamba dalam jumpa pers secara daring, Senin (7/3).

Para warga binaan, lanjutnya, mendapatkan penyiksaan ketika pertama kali masuk lapas. Aksi ini berlangsung selama satu hingga dua hari. Tak berhenti, saat pengenalan lingkungan juga terulang aksi yang sama.

Penyiksaan juga terjadi ketika warga binaan melakukan pelanggaran. Tak sebatas teguran tapi sudah kekerasan fisik. Alasannya sebagai bentuk pembinaan dan pendisiplinan terhadap warga binaan.

“Juga bertujuan untuk menurunkan mental WBP, tujuannya untuk menekan atau membuat down psikologis dari WBP,” katanya.

Aksi ini terungkap pada Oktober 2021. Kala itu sejumlah warga binaan yang mendapatkan cuti melaporkan ke Ombudsman Republik Indonesia Kantor Perwakilan DIJ. Tim Komnas HAM menindaklanjuti dengan pemantauan pada 11 November 2021.

Dari kunjungan ke Lapas Narkotika ditemukan 6 warga binaan dalam kondisi terluka. Mulai dari luka kering, luka bernanah di punggung dan lengan. Adapula luka keloid di punggung dan luka membusuk di lengan.

“Itu posisinya masih di dalam lapas,” ujarnya.

Temuan lain adalah perubahan suasana dan sistem di Lapas Narkotika Pakem. Medio sebelum hingga pertengahan 2020 masih marak peredaran narkoba. Adapula temuan gawai di dalam sel lapas. 

Memasuki pertengahan 2020 terjadi pergantian struktur pejabat lapas. Otomatis terjadi perubahan sistem pendekatan kepada warga binaan. Dalihnya upaya perbaikan dan pembersihan lapas.

“Upaya perbaikan sangat singkat hanya berlangsung dua sampai tiga bulan namun dengan intensitas kekerasan yang cukup tinggi. Intensitas waktu petugas lapas melakukan operasi yang dilakukan dari pagi, siang sampai malam hari,” katanya.

Komnas HAM turut menyoroti peredaran kunci setiap sel. Seharusnya kunci berada di pintu penjaga utama P2U. Keberadaan kunci juga dibawah penagwasan dan sepengetahuan Kalapas.

“Namun anak kunci sering tidak dikembalikan ke rumah dinas Kalapas, anak kunci ditaruh di area P2U sehingga sering terjadi peminjaman atau istilah bon WBP dari blok tahanan,” ujarnya. (dwi)

Sleman