RADAR JOGJA – Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit demam berdarah dengue (DBD) dan leptospirosis. Ini mengingat puncak musim penghujan diprediksi hingga Maret.

DBD dan laptospirosis merupakan potensi penyakit yang datang pada musim penghujan. “Sudah ada 79 kasus DBD dan tiga kasus leptospirosis tahun ini,” ungkap Kepala Dinkes Sleman Cahya Purnama (2/3).

Menurutnya, angka DBD ini cukup tinggi dibandingkan jumlah angka minimum sejak 2013 hingga 2020 per periode yang sama pada Januari dan Februari. Dengan angka minimal 49 kasus.

Kendati begitu, sejak 2020 angka kasus DBD cenderung turun. Dari 810 kasus pada 2020, menurun tajam di angka 282 kasus selama 2021. Tidak hanya kasusnya menurun, tetapi tingkat fatalitasnya juga menurun.

Jika 2020 ada dua yang meninggal dunia (MD), pada 2021 berkurang satu kasus. “Ada satu yang meninggal 2021. Kalau tahun ini belum ada, mudah-mudahan jangan sampai ada kasus yang meninggal,” harapnya.

Demikian juga dengan leptospirosis. Bila tahun sebelumnya terdapat 13 kasus dengan dua kasus MD, tahun ini muncul kembali tiga kasus tapi nihil kasus MD. Pasien leptospirosis bukan hanya dari lingkungan pedesaan, melainkan juga di wilayah perkotaan atau pemukiman padat penduduk.

“Biasanya di daerah endemi persawahan. Dulu paling banyak di Minggir, Moyudan, dan Turi. Sekarang sudah mulai masuk Berbah, bahkan di kota,” kata mantan direktur RSUD Sleman ini.

Jika DBD disebabkan dari gigitan nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus yang terinfeksi virus, leptospirosis menular dari kencing tikus yang terinfeksi bakteri. Adapun gejala yang ditimbulkan akibat DBD yaitu demam tinggi mencapai 40 derajat celcius. Nyeri kepala, sendi, otot dan tulang termasuk nyeri pada bagian belakang mata. Merasakan mual dan muntah dibarengi nafsu makan menurun. Terjadi pembengkakan pada saluran getah bening, kerusakan pembuluh darah dan pendarahan dari hidung, gusi, maupun di bawah kulit. Terakhir, terjadi ruam kemerahan setelah demam.

Gejala akibat leptospirosis sedikit mirip dengan flu, juga diikuti gejala lain seperti demam tinggi dibarengi badan menggigil, diare, sakit kepala dan mata kuning atau merah. Selain itu merasakan nyeri otot pada betis dan punggung dan muncul bintik merah pada kulit. “Kalau terjadi gejala ini, harus segera diperiksakan,” pintanya.

Untuk leptospirosis, pemeriksaan harus melalui tes khusus. Jika secepatnya ditangani mendapatkan antibiotik, maka penyakit ini segera sembuh. Tetapi bila terlambat, harus dilakukan cuci darah dan sebagainya. Fatalitasnya juga berbahaya. Dapat menyebabkan kematian. “Tetapi sejauh ini belum ada kasus kematian tiap tahunnya,” sebutnya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sleman Khamidah Yuliati mengatakan, kasus DBD cenderung menurun sejak dua tahun terakhir. Hal ini dipengaruhi oleh program penyebaran nyamuk ber-wolbachia di Kabupaten Sleman yang dinilai efektif penurunan angka kasus DBD. Untuk persebarannya, daerah rawan DBD merupakan daerah yang memiliki angka bebas jentik (ABJ) rendah. Tetapi di Kabulaten Sleman ini penerapan ABJ-nya terbilang tinggi, yakni 95 persen.

Sebagai upaya pencegahan DBD, hendaknya menerapkan prinsip 3M. Mulai dari menguras dan menutup tempat penampungan air, juga mengubur barang bekas. “Untuk mencegah leptospirosis kami imbau petani agar menggunakan sepatu boot saat turun ke sawah atau saat aktivitas tani,” tandasnya. (mel/laz)

Sleman