RADAR JOGJA – Kabupaten Sleman saat ini memasuki fase bencana hidrometeorolgi. Ditandai dengan tingganya intensitas hujan disertai petir dan angin kencang. Selain itu perubahan dari cuaca panas ke hujan juga berlangsung sangat cepat.

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Bambang Kuntoro memaparkan kondisi ini berpotensi terjadi hingga pertengahan Februari 2022. Hujan disertai angin kencang terjadi merata di Kabupaten Sleman. Dampak sekundernya adalah munculnya genangan air hingga banjir di sejumlah titik.

“Sudah masuk fase hidrometerologi hingga pertengahan Februari. Potensi bencana yang terjadi di Sleman, seperti pohon tumbang, tanah longsor, dan banjir terjadi,” jelas Bambang ditemui di Kantor BPBD Sleman, Rabu (16/2).

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya mengaktifkan kembali unit pelaksana di masing-masing kalurahan. Adapula unit operasional di masing-masing wilayah kapanewon. Termasuk melibatkan peran relawan dan Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB).

Bambang menuturkan koordinasi manajemen penanggulangan bencana telah optimal. Selama ini apabila terjadi bencana, tim langsung bergerak. Mulai dari evakuasi pohon roboh, tebing sungai geser maupun tanah longsor.

“Dengan peran aktif dari semua pihak diharapkan langkah antisipasi dan evakuasi bisa dilakukan lebih cepat. Kolaborasi ini membuat penanganan efektif dan optimal,”kata Bambang.

BPBD Sleman, lanjutnya, mendata beberapa kejadian hidrometeorologi di Sleman. Diantaranya terjadi di Kapanewon Gamping, Moyudan, dan Prambanan. Bambang memastikan seluruhnya telah ditangani oleh FPRB bersama dengan BPBD Sleman.

“Masyarakat tetap waspada. Terkait bencana hidrometeorologi ini diperkirakan sampai dengan akhir Februari. Potensi ada tapi kita tidak tahu kejadiannya seperti apa nantinya,” ujar Bambang. (isa/dwi)

Sleman