RADAR JOGJA – Rektor UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta Al Makin meminta masyarakat memaafkan sosok Hadfana Firdaus. Selain itu juga meminta proses hukum terhadap sosok penendang sesajen Gunung Semeru dihentikan. Cara itu sebagai wujud pelajaran bagi tindakan intoleran yang dilakukan oleh Hadfana.

Menurutnya, tindakan persekusi terhadap Hadfana tidaklah tepat. Apabila ingin memberikan pelajaran harus dengan cara memaafkan. Adanya persekusi justru membuat warga bertindak sama seperti yang dilakukan oleh Hadfana.

“Memohon kepada bangsa Indonesia kepada seluruh warga Indonesia, Pemerintah terutama Kabupaten Lumajang, tolong semua memaafkan Hadfana Firdaus. Memaafkan kepada saudara kita itu, mungkin khilaf atau keliru menendang atau melempar sesajen,” jelasnya ditemui di Kampus UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta, Jumat (14/1).

Menurutnya semangat memaafkan adalah cerminan Bhinneka Tunggal Ika. Apabila ingin mengedukasi Hadfana maka dengan lapang dada memaafkan. Al Malik tak menampik bahwa tindakan Hadfana tidaklah tepat.

Indonesia, lanjutnya, terlahir dengan keberagaman agama dan kepercayaan. Seluruhnya harus hidup selaras dan harmonis di tengah perbedaan. Inilah yang terkadang memunculkan konflik karena adanya perbedaan pandangan yang dipaksakan.

“Indonesia itu Bangsa pemaaf. Sebenarnya banyak yang lebih melanggar aturan dan bertentangan dengan hukum itu. Kita maafkan apalagi cuma itu atas nama kebhinnekaan,” katanya.

Terkait proses hukum, menurutnya, sewajarnya tak berlanjut. Al Makin memandang tindakan Hadfana Firdaus tidaklah sebesar aksi intoleransi lainnya. Termasuk banyaknya kasus pelanggaran pidana di Indonesia.

Dia memberi contoh saat melakukan pendampingan ke kelompok minoritas. Seperti munculnya persekusi terhadap Lia Eden, kelompok Gafatar, Ahmadiyah dan aliran kepercayaan lainnya. Akibat aksi itu, sosok yang awalnya menyimpang justru menjadi tambah menderita dan tidak bertobat.

“Banyak sekali kelompok minoritas menderita karena kita sendiri dan tidak masuk pengadilan. Maka tidak adil rasanya kalau hanya Hadfana yang khilaf lalu diproses hukum. Menyerukan proses hukum dihentikan dan dimaafkan agar memberi contoh yang baik,” harapnya.

Disatu sisi Al Makin tak menampik tindakan Hadfana bertentangan dengan jiwa dan semangat UIN Sunan Kalijaga. Berupa adanya tradisi dialog antar agama dan aliran kepercayaan. Namun bukan lantas tindakan terhadap pelaku menjadi represif.

“Balas dendam terbaik adalah tidak mengulang perbuatan yang kita cela. Sikap memaafkan itu adalah pendidikan luar biasa, sikap lapang dada adalah tauladan yang luar biasa,” ujarnya. (Dwi)

Sleman