RADAR JOGJA – Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo meresmikan Jembatan Kalimadu, Rabu siang (29/12). Jembatan ini menjadi penghubung antara Kalurahan Kalitirto, Kapanewon Berbah dengan Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan. Kini akses kedua wilayah ini tersambung tanpa harus berjalan memutar.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman Taufiq Wahyudi mengatakan jembatan yang memiliki ukuran 9×80 meter ini dibangun dalam dua tahap. Tahap pertama pada 2019 dan berlanjut 2021.

“Pembangunan jembatan ini menghabiskan APBD hingga Rp 21.141.011.000,” jelasnya ditemui di sela-sela peresmian Jembatan Kalimadu, Rabu (29/12).

Taufiq menuturkan sebelum ada jembatan, kedua wilayah tak memiliki akses. Sebelumnya masyarakat harus melalui Jembatan Gantung dan Jembatan Lava Bantal. Rute ini tentu lebih lama karena warga harus berputar terlebih dahulu.

Dengan adanya Jembatan Kalimadu, Taufiq berharap akses warga lancar. Baik untuk kegiatan sosial, pendidikan hingga perekonomian. Mampu menghemat waktu dan biaya dibanding rute sebelumnya.

“Kalau untuk nama karena menghubungkan Padukuhan Kalitirto dan Madurejo sehingga diberi nama Jembatan Kalimadu. Dengan adanya jembatan ini, aksesnya lebih mudah,” kata Taufiq.

Kepala Dinas Perhubungan Sleman Arip Pramana mengatakan, usai Jembatan Kalimadu rampung pihaknya langsung memasang Penerangan Jalan Umum (PJU) di 10 titik. Tak hanya itu, dia juga memasang kaca cembung di pertigaan ujung jalan jembatan untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan.

“Pemasangan lampu ini juga sebagai respon ternyata setelah ini selesai kemarin kemudian jadi tempat nongkrong yang dikhawatirkan akan menimbulkan efek-efek negatif kemudian kami lakukan pemasangan PJU itu,” ujar Arip.

Arip berharap Jembatan Kalimadu dapat mengurai kemacetan. Terutama untuk warga yang ingin menuju Gunungkidul maupun Solo Jawa Tengah. Sehingga dapat menjadi jalur alternatif bagi para pelintas.

“Salah satu alternatif baik bagi masyarakat Gunungkidul maupun yang bekerja ke Sleman bisa lewat sini sehingga tidak di setiap teteg (pintu kereta api Prambanan) antrian panjang,” kata Arip. (co1/dwi)

Sleman