RADAR JOGJA – Bangunan joglo ini kokoh, meski usianya sudah tua. Dulu bekas kantor Kalurahan Brayut pada jaman Belanda. Setelah dijadikan sentral Desa Wisata Brayut, rumah khas tradisional ini menjadi langganan menginap artis hingga pejabat tersohor.

Bangunan itu terletak di Padukuhan Brayut. Oleh pengelola Desa Wisata Brayut, dijadikan sentra administrasi. Sekaligus ruang publik produktif masyarakat setempat. Juga jujukan wisata. Mengenal rumah tradisional, Joglo khas Jawa.

“Bangunan ini berusia 200 tahun lebih. Joglo I, dulunya bekas Kantor Kalurahan Brayut sekitar tahun 1940-1943,” ungkap Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Wisata Brayut Aloysius Sudarmadi, belum lama ini.
Disebutkan saat itu administrasi wilayah masih bernama Kalurahan Brayut belum menjadi Kalurahan Pandowoharjo, Kapanewon Sleman. Terbukti adanya tombak payuh yang menggambarkan kekuasaan.”Dulu lurahnya Mertorejo,” katanya.

Saat berganti waris, bangunan ini menjadi tempat tinggal. Ditempati anaknya bernama Martodimejo. Di saat inilah Kantor Kalurahan dipindahkan di bangunan lainnya, masyarakat menyebutnya Joglo II. Berlokasi kurang lebih 50 meter dari lokasi Joglo I ini.

Pria yang akrab disapa Sudarmadi ini menceritakan, bangunan ini sempat mangkrak, 14 tahun tidak dihuni. Setelah ditinggalkan pemiliknya, antara tahun 1989 sampai 1990-an. Sejak Martodimejo meninggal, anak-anaknya tak lagi menghuni rumah ini. Memilih menempati ruang lain.

Radar Jogja menelisik bangunan ini. Bangunan ini memiliki lantai yang tinggi dari halaman rumahnya. Tiang, usuk, pintu, jendela, bahkan perabotan di dalamnya berbahan kayu jati murni. Kayu jati di bagian atap dipadukan dengan potongan bambu yang tertata rapi. Tampak harmoni.

Bangunan ini terdiri dari lima bagian. Mulai dari emperan atau teras depan, ruang utama, pinggitan atau teras tengah, ruang keluarga dan bagian belakang atau sentong. Bagian sentong pun terdiri dari tiga ruang. Sentong kiwa (kiri), sentong tengah dan sentong tengen (kanan).

Sentong menjadi ruangan privasi keluarga. Sentong tengah, khusus menyimpan barang berharga. Seperti menaruh benda pusaka maupun ruang untuk bersesaji. Tepat di atas pintu pinggitan, terdapat foto Lurah pertama, Mertorejo. Foto ini diperbesar dan dicetak hitam putih layaknya sketsa. Hanya tampak konturnya saja. Di depan sentong kiwo dan tengen juga ada lemari tua. Usianya hampir sama dengan bangunan tersebut.

Kini, oleh pengelola, bagian sentong disulap jadi tempat tidur penginapan. Pengunjung dapat menempati tempat tidur ini. Meski, terkesan horor lantaran menginap di bangunan tua. Tetapi tempat ini menjadi langganan penginapan baik pejabat maupun artis tersohor. “Seperti mantan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI I Gede Ardhika, Wakil Bupati Seruyan Kalimantan Tengah, Kepala Bappeda Indramayu, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, dan lainnya. Lalu ada kalangan artis seperti Shireen Sungkar, Nana Mirdad, Adipati Dolken, Tora Sudiro, miss universe dan lainnya,” sebut Sudarmadi sembari menunjukkan sentong yang berisi tempat tidur itu.

Tah hanya itu. Sisi menarik bangunan ini ada pada kontruksinya. Bangunan ini disebut-sebut tahan gempa. Sebab bangunan ini dibangun tanpa di paku. Tiang-tiang penyangga disusun dan diikat dengan teknik kuncian. Mengkaitkan kayu satu dan lainnya. Sehingga saat gempa kuncian itu hanya bergeser. Dan kembali seperti semula. “Usai gempa berpusat di Bantul dulu, banyak arsitektur-arsitektur yang meneliti bangunan ini. Bahkan seorang arsitektur dari Jepang menyebut bagunan ini tahan gempa, karena teknik pembangunannya menggunakan kuncian,” ungkap Pria asli Brayut itu.

Pada 2004 bangunan ini menyandang status rumah tradisional yang dipertahankan. Lalu mengajukan ke Dinas Kebudayaan Sleman yang semula rumah tradisional dinaiikkan menjadi warisan budaya. Dua tahun setelahnya disurvei, pada 2015 rumah ini menyandang sebagai rumah cagar budaya dan sudah mengantongi surat keterangan (SK) gubernur. “Artinya, rumah ini dilindungi Undang-undang,” jelas Pria berusia 58 tahun ini.

Menurutnya, bangunan ini membawa berkah juga menjadi salah satu bagian pelestarian budaya. Meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus central kebudayaan di wilayah ini. (mel/pra)

Sleman