RADAR JOGJA – Batalnya kebijakan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) Level 3 menjadi berkah tersendiri bagi pelaku usaha. Salah satunya adalah hotel yang tergabung dalam DPC Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Sleman. Terbukti dengan okupansi yang mencapai 60 persen saat libur natal dan tahun baru (nataru).

Ketua DPC PHRI Kabupaten Sleman Joko Paromo menuturkan peningkatan terjadi pasca batalnya kebijakan PPKM Level 3. Angka pemesanan kamar hotel di seluruh Kabupaten Sleman meningkat. Tercatat peningkatan okupansi mencapai 10 persen hingag 15 persen.

“Konsekuensinya, teman-teman PHRI di Sleman tetap mengedepankan prokes yang sifatnya harus mendukung program pemerintah. Untuk prokes harus ditaati apalagi menjelang natal dan tahun baru ini banyak tamu datang dari luar,” jelas Joko, Jumat (17/12).

Dia menegaskan penerapan protokol kesehatan menjad harga mati bagi seluruh pengelola hotel. Bahkan dia meminta agar meningkatkan penerapan prokes saat libur nataru. Tak hanya untuk tamu tapi juga karyawan hotel.

Strategi lainnya adalah dengan mengoptimalkan QR Code Peduli Lindungi. Fungsinya untuk mendata pengunjung yang datang ke hotel. Tak hanya terkait kuota, tapi juga skenario penanganan jika muncul kasus Covid-19.

“Aturan PPKM yang tadinya dinaikkan menjadi level 3 kemudian menjadi level 2 lagi ini patut kita syukuri. Diharapkan berdampak pada sektor pariwisata dan ekonomi di jogja ini bisa hidup kembali. Tapi juga jangan lengah prokesnya,” kata Joko.

Disinggung soal kemungkinan terjadinya perubahan aturan dari pemerintah pusat, Joko mengatakan tak ada pilihan lain. Pihaknya tak bisa membuat aturan sendiri dan akan tetep mematuhi apapun kebijakan pemerintah. Hal ini guna menjamin keselamatan dan kesehatan semua pihak.

“Kalau aturan berubah lagi ya memang kami tidak ada jalan keluar. Kami tidak bisa bikin aturan yang semaunya,” ujar Joko. (co1/dwi)

Sleman