RADAR JOGJA – Peminat kerajinan bambu tradisional di Desa Wisata Sendari, Kalurahan Tirtoadi, Mlati, mulai meningkat setelah dua tahun terdampak pandemi Covid-19. Rata-rata perajin mulai mengalami peningkatan omzet bulanan sebesar 30-40 persen. Mereka kini bisa tersenyum lega karena usahanya kembali tumbuh.

Perajin Bambu Padukuhan Sendari Bambang Suwarno mengatakan, saat ini usaha bambu miliknya mengalami peningkatan 40 persen. Peningkatan ini dirasakan sejak aturan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) melonggar. Kegiatan yang mulai stabil, membuka akses kembali peminat kerajinan bambu dari berbagai wilayah. Bahkan kini kembali menembus pasar ekspor.

“Sejak September usaha saya mulai bangkit. Klien yang dulu berhenti karena pandemi Covid-19, kini terhubung lagi,” ungkap Bambang dengan raut semringah saat ditemui Radar Jogja di rumah sekaligus gerai usahanya, Padukuhan Sendari, kemarin (25/11).

Diceritakan, usahanya sempat mampet karena pandemi. Menyebabkan omzetnya terjun bebas di bawah 10 persen. Untuk mempertahankan usaha, dia terpaksa menguras tabungan. Produksi terus digencarkan. Tanpa merumahkan lima karyawannya yang mengandalkan gaji bulanan dari usahanya yang sudah dia rintis sejak 2002.

Perjalanan usahanya yang terjal, membuahkan hasil. Setidaknya dalam satu bulan dia mampu mengantongi Rp 2 juta sampai Rp 3 juta dari penjualan kerajinan bambu. Mulai dari kere seharga puluhan ribu hingga satu set meja kursi senilai Rp 900 ribu sampai Rp 1 juta lebih. Peminatnya lokal, seperti Jakarta, Pekanbaru dan Sumatera Selatan.

“Belum lama ini juga dapat pesanan lagi dari Prancis. Tirai-tirai bambu dan beberapa furniture lainnya,” sebut pria berusia 47 itu. Pihaknya juga sudah mengirimkan pesanan satu kontainer atau 275 bambu ke Abu Dabi, Uni Emirat Arab (UEA), dengan nilai Rp 60 juta.

Suplai ini berwujud bahan dasar bambu yang akan digunakan sebagai material pembuatan pagar perumahan. Menyusul lagi pesanan kerajinan bambu dari Belanda, yang saat ini masih diurus dokumen perjanjiannya.

Meski kerajinan bambu tradisonal bersaing ketat dengan kerajinan rotan dan imitasi, dia optimistis selama persediaan bahan (bambu, Red) memenuhi, kerajinan bambu tradisional tidak akan mati. Justru lebih survive dengan kreasi-kreasi baru yang lebih kreatif.

“Kami mendorong pemerintah serius menyikapi hal ini.  Menyiapkan kebun bambu untuk memenuhi kebutuhan bahan baku perajin bambu di Sleman,” ungkapnya.

Atidja, 56, pemilik usaha bambu tak jauh dari rumah Bambang menambahkan, peminat kerajinan bambu tradisional dari usahanya juga meningkat 40 persen dari kondisi pandemi sekitar Rp 3 juta- Rp 4 juta per bulan. Meski masih jauh dari omzet per bulan sebelum pandemi mencapai Rp 10 juta. Tetapi dia optimistis peminat  kerajinan bambu masih bisa tumbuh dan berkembang meluas apabila ekspor tumbuh.

“Ya kalau dibandingkan dengan kerajinan rotan, bambu masih kalah sih. Tapi setidaknya ada peluang untuk kembali memperluas pemasaran,” tambahnya.

Oleh karena itu dia berharap pemerintah membuka ruang persediaan bahan baku bambu. Sebab, selama ini bambu tidak lagi diambil dari wilayah Sleman, melainkan Purworejo dan Magelang. “Harapannya Sleman ada pohon bambu, sehingga tak perlu jauh-jauh mencari bahan bakunya,” tandas Atidja. (mel/laz)

Sleman