RADAR JOGJA – Cuaca ekstrem hujan deras dengan intensitas tinggi menyebabkan bencana di Kabupaten Sleman semakin meluas. Warga diimbau tetap waspada ancaman bencana.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman Makwan mengatakan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi dan Klimatologi Geofisika (BMKG) DIJ puncak musim hujan masih akan terjadi hingga awal tahun. Hal ini memicu potensi bencana hidrometeorolagi. “Yang perlu dilakukan warga, lebih meningkatkan mitigasi kebencanaan,” ungkapnya Jumat (19/11).

Menurut dia, hal itu bisa dimulai dari perseorangan. Agar tidak membuang sampah sembarangan agar tidak menyebabkan selokan air mampet. Menjaga kebersihan melakukan gotong royong pembersihan sampah di drainase lingkungan setempat.

Bagi warga yang memiliki pohon besar, agar dilakukan pemangkasan. Bila tidak bisa dilakukan mandiri, dapat menghubungi relawan tanggap bencana setempat atau langsung menghubungi BPBD. Warga di lingkungan tebing, diminta waspada dan selalu berjaga. Terutama warga yang rumahnya dekat tebing atau talut. Bila terjadi hujan intensitas tinggi, sebaiknya bergegas menghindar. Menjauhi rumah. Serta mengamankan dokumen berharga. Dan lingkungan sekitar juga harus waspada meningkatkan pemantauan lingkungan sekitar. “Jangan sampai ada korban,” katanya.

Dia pun menambahkan, hujan deras disertai angin kencang, Jumat (19/11) menyebabkan bencana meluas. Mengakibatkan delapan kejadian yang tersebar di tiga kapanewon dan lima kalurahan. Mulai dari pohon tumbang menimpa jaringan listrik, menimpa rumah warga di Gamping, menimpa kendaraan yang terparkir dibawah pohon dan baleho yangvhampir roboh di Sinduharjo, Ngaglik. “Beruntung tidak terjadi korban jiwa,” paparnya.

BPBD Sleman mencatat, hujan yang mengguyur pada Kamis (18/11) menyebabkan 11 kejadian bencana, tersebar di tiga kapanewon (Prambanan, Cangkringan dan Pakem) dan enam kalurahan. Mulai dari pohon tumbang melintang jalan, tebing longsor mengancam rumah warga, jembatan ambrol hingga banjir bandang.

Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Bandung Bondowoso Prawoto mengatakan, khususnya di wilayah Prambanan longsor terjadi di 10 titik. Kemudian, terdampak banjir ada lima titik. Kendati begitu bencana tidak menimbulkan korban jiwa.

Bencana hidrometeorologi ini, kata dia, menyebabkan sejumlah akses jalan tertimbun longsor dan mengancam satu rumah warga di Padukuhan Nglengkong. Hujan deras juga menyebabkan pipa saluran air terputus di Kalurahan Sambirejo. Sehingga menyebabkan kebutuhan air berkurang. Berimbas ke sebagian masyarakat Kalurahan Gayamharjo dan Wukirharjo. “Pipa rusak belum terkondisikan,” katanya dihubungi, Jumat (19/11).

Kemudian, jembatan putus. Terjadi di dua titik. Di Padukuhan Nglengkong jembatan sepanjang 6 meter ambrol. Begitu juga di Marangan, Bokoharjo. Pembatas jembatan ambrol. Masih bisa dilalui tetapi kondisinya berbahaya. Kedua jembatan masih dievakuasi. Relawan dan warga setempat melakukan pembersihan sampah yang menyangkut di bawah jembatan tersebut.

Banjir bandang akibat luapan air sungai di padukuhan Berjo, Sumberharjo menyebabkan 100 KK terdampak atau hampir satu padukuhan. Air membanjiri rumah warga. Sebanyak 7 KK atau 17 jiwa terpaksa mengungsi di Masjid Banyunibo pada Kamis malam (18/11). Kendati begitu, pada Jumat pagi (19/11) warga kembali untuk mebersihkan rumah masing-masing. Karena banjir mulai surut.”Banjir beberapa jam sudah surut. Karena wilayah ini berada di daratan agak bawah, tiap tahun jadi langganan banjir,” katanya. Saat ini seluruh relawan bergerak membantu evakuasi menguatkan mitigasi bencana. (mel/pra)

Sleman