RADAR JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono X meminta Pemkab Sleman benar-benar memperhatikan kawasan Merapi. Kaitannya adalah penambangan oleh warga maupun korporasi secara besar-besaran. Tak sedikit dari lahan tersebut rusak dan tak produktif untuk pertanian.

Pernyataan ini menyikapi maraknya aksi penambangan pasir di kawasan lereng Merapi. Bukan lagi di kawasan alirang sungai namun pekarangan. Alhasil tindakan ini merusak konservasi alam termasuk sumber mata air.

“Secara ekonomi warga yang terdampak 2010 (erupsi Merapi) mendapat bagian lebih sejahtera, sehingga tidak perlu ditambang lagi. Tanah dikeduk (digali) 100 meter itu memang pasir tidak akan habis tapi malah merusak lingkungan,” jelasnya saat peninjauan pasar lelang cabai Purwobinangun Pakem Sleman, Senin (15/11).

Raja Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat ini menyampaikan uneg-unegnya dihadapan jajaran Setda Pemkab Sleman. Secara pribadi HB X tak setuju adanya penambangan pasir. Terlebih aksi ini belakangan semakin merambah pekarangan dan merusak lingkungan.

HB X menyarankan agar tanah-tanah pekarangan dimanfatakan selayaknya. Sebagai tanah untuk bercocok tanam bagi warga khususnya petani. Sehingga hasilnya bisa dimanfaatkan tanpa harus merusak alam.

“Kami tidak setuju selalu alasannya seperti itu (ditambang untuk ekonomi). Saya cenderung bagaimana tanah dimanfaatkan masyarakat untuk menambah penghasilan lebih bermanfaat daripada (dimanfaatkan) bos-bos besar,” katanya.

Dia menyarankan adanya alih fungsi area penambangan pasir. Seperti penanaman cabai atau bawang merah di lahan kering. Kondisi ini sudah diadaptasi oleh petani di kawasan pesisir pantai selatan Jogjakarta.

HB X meminta pejabat Setda Pemkab Sleman belajar dari petani maupun Pemkab Bantul. Dapat memanfaatkan lahan yang awalnya tak produktif. Hingga akhirnya berubah menjadi lahan produktif dengan hasil pertanian bawang merah yang masif.

“Mengembangkan cabai atau bawang merah bisa ditempat tanah kering seperti pantai selatan. Kalau disini misal pasir lava bisa dimanfaatkan daripada merusak lingkungan,” ujarnya.

HB X mengakui tak mudah memanfaatkan lahan kering sebagai pertanian. Namun menurutnya tidak ada salahnya mencoba. Terlebih saat ini teknologi pertanian terus berkembang.

Konsistensi ini menurutnya yang menjadi bekal Pemkab dan petani Bantul. Terbukti dengan diakuinya benih bawang merah tiron oleh Kementerian Pertanian. Jenis benih ini dapat ditanam di lahan kering khususnya pasir.

“Ini kesempatan di lahan pasir untuk ditanami. Saat Brebes tidak panen karena musim hujan, Bantul justru panen dan menikmati harga tinggi. Namanya brambang (bawang merah) tiron, sudah diakui benih produk Bantul. Sleman bisa dicoba dari situ karena khusus untuk lahan kering,” pesannya. (Dwi)

Sleman