RADAR JOGJA – Kementerian Agama (Kemenag) Sleman bakal mengusut oknum yang menyalahgunakan buku nikah. Atas modus pencurian buku nikah di DIJ, sebagaimana dikatakan Direktur Bina Kantor Urusan Agama Kemenag Muhammad Adib belum lama ini.

Bilamana mendapati kasus itu, warga diminta segera melaporkan ke Kantor Urusan Agama (KUA) setempat maupun Kemenag Sleman. Atau bila kasusnya memasuki ranah pidana, bisa ke pihak berwajib.

Kepala Kemenag Sleman Sidik Pramono mengatakan, untuk mengantisipasi adanya korban penyalahgunaan buku nikah oleh oknum tak bertanggung jawab, dia meminta kepada pasangan yang hendak menikah agar melakukannya di KUA. Dengan begitu mendapatkan buku nikah yang akurat, secara administrasi dan kependudukan teregistrasi, dan dipertanggungjawabkan. “Selain itu nikah di KUA biayanya nol rupiah,” terang Sidik saat dihubungi Radar Jogja Selasa (9/11).

Hal ini jauh berbeda bila dibandingkan dengan menembus jalan instan. Dengan membeli buku nikah. Sebab, dokumen kependudukan bisa dipertanyakan ke absahannya dan dapat bermasalah dengan hukum. “Misalnya beli di oknum. Sekalipun buku nikah asli, hasil curian dari KUA manapun bermasalah, Red,” jelasnya.

Disampaikan, terkait kasus pencurian buku nikah dikatakan nihil di Kabupaten Sleman. Selama ini dia belum mendapati adanya laporan masuk. Kendati begitu, kasus buku nikah janggal, kata Sidik, pernah dijumpai. Ketika hendak legalisasi ke KUA, baru ketahuan nomor seri atau nomor porforasi buku nikah tidak tercatat di Kemenag atau nomor porforasi tercatat nama orang lain.

“Biasanya yang seperti ini nikah siri. Tidak terdaftar di KUA,” bebernya. Buku nikah rawan dimanfaatkan untuk nikah siri. Untuk menindak lanjuti temuan kasus itu, maka buku nikah ditarik. Bila ingin mendapatkan pengakuan sah secara negara, maka dapat menempuh jalur Pengadilan Agama. Jika didapati mengadakan atau mengambil buku nikah dari jual beli wilayah manapun, maka diserahkan ke polisi.

Lalu, bagaimana membedakan buku nikah palsu atau asli? Kepala Seksi Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Jaenudin menjelaskan, pertama dilihat dari hologramnya pada nomor seri. Semua nomor seri sudah tercatat begitu buku nikah dikirimkan dari pusat ke Kanwil Kemenag DIJ. Begitu juga dari Kanwil DIJ ke Kemenag Sleman.

Kedua, dari segi tulisan di nomor akta. Apabila dijumpai kode ganda, bisa jadi buku nikah palsu. Ketiga, dilihat dari stempelnya. Buku nikah asli tidak lagi menggunakan stempel besar. Melainkan stampel kecil yang formatnya sudah diatur. Juga pada bagian tanda tangan. Dilihat dari Nomor Induk Pegawai (NIP) menggunakan 12 digit. Bukan lagi 6 digit.

Keempat, buku nikah sudah tidak lagi ditulis tangan menggunakan pulpen, tetapi ditulis dengan komputer setelah 2012. “Terakhir, kini buku nikah sudah menggunakan cetak kartu digital. Bukan dalam bentuk fisik,” jelasnya. (mel/laz)

Sleman