RADAR JOGJA – Status pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) turun ke level 2. Berlaku hingga 1 November. Kendati demikian, Dinas Pendidikan Sleman belum akan membuka pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah secara penuh. Namun tetap PTM terbatas. Kebijakan tersebut guna mengantisipasi timbulnya klaster Covid-19.

Di sisi lain, dinas pendidikan hanya akan menambah jumlah sekolah pelaksana PTM sekolah dasar (SD). Dari semula 85 sekolah yang mulai PTM sejak 11 Oktober. Mulai minggu ini menjadi 170 sekolah. Tersebar merata di 17 kapanewon. “Rinciannya sama. Masing-masing kapanewon ada penambahan lima sekolah lagi,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan Sleman Ery Widaryana di Pendapa Parasamya Sleman Selasa (19/10).

Kepala Dinas Pendidikan Sleman Ery Widaryana.(MEITIKA CANDRA LATIFA/RADAR JOGJA)

Sedangkan jumlah total SD di Sleman sebanyak 511 sekolah. Penambahan jumlah sekolah pelaksana PTM akan dilakukan bertahap. Disesuaikan dengan kondisi terkini Covid-19 dan hasil evaluasi pelaksanaan PTM. Sementara PTM terbatas untuk SMP sudah menyasar seluruh sekolah di Sleman sejak 4 Oktober. Total ada 119 sekolah. “Hasil evaluasi PTM seminggu ini berjalan baik. Seluruh sekolah telah melaksanakan protokol kesehatan (prokes). Sesuai petunjuk teknis dari pusat dan kabupaten,” jelasnya.

Ery berjanji, jika evaluasi PTM terus membaik, kualitas pembelajaran di sekolah akan terus ditambah. Demikian pula jumlah sekolahnya.

Demi menjamin kelancaran proses PTM, dinas pendidikan bersama dinas kesehatan berencana melakukan swab antigen di enam SD dan SMP besok. Swab akan dilakukan secara acak pada sekolah yang berada di kalurahan zona merah. Antara lain, SMPN 2 Pakem dan SDN Kaliurang di Harjobinangun, Pakem. Lalu SD Samirono dan SDN 5 Depok, Caturtunggal, Depok. Berikutnya, SD Muhammadiyah Bayen dan SMPN 3 Kalasan, Purwomartani, Kalasan. “Swab ini untuk memastikan sekolah bebas dari orang tanpa gejala (OTG) Covid-19,” ungkap Ery.

Jika ternyata didapati ada siswa atau guru terkonfirmasi positif Covid-19, sekolah akan ditutup sementara selama tiga hari. PTM dihentikan dan diganti pembelajaran daring. Gugus Tugas Covid-19 Sleman kemudian melakukan 3T (tracing, testing, dan treatment) di sekolah terkait.

Penurunan level PPKM di Sleman disambut baik wali murid SD di wilayah Kalasan. Satu di antaranya Imanudin. Pria paro baya itu sangat setuju dengan kebijakan yang diterapkan Pemkab Sleman dalam hal PTM. Menurutnya, kebijakan PTM terbatas menjadi bagian pengendalian Covid-19. Demi keamanan dan kenyamanan bersama. “Kebetulan saat ini sekolah anak saya belum ada PTM. Masih daring,” katanya.

Terpisah, Anggota Komisi D DPRD Sleman Suryana mengimbau masyarakat tidak lengah dengan penurunan level PPKM. Terlebih pelaksanaan PTM di sekolah. “Prokes harus konsisten. Jalur keluar masuk siswa tetap dipisah. Pastikan siswa tidak bergerombol selama berada di sekolah,” imbaunya.(mel/yog)

Sleman