RADAR JOGJA – Pemerintah Kabupaten Sleman gagal lagi memberangkatkan warga yang mengikuti program transmigrasi. Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Sleman Sutiasih mengatakan, adanya refocusing anggaran dari pusat. Sehingga Sleman tidak mendapatkan jatah tujuan lokasi transmigrasi sebagaimana mestinya. “(Tahun) 2020 dan 2021, kami tidak memberangkatkan transmigrasi kemanapun. Karena kebijakan dari pusat, ada pengurangan kuota di DIJ, dan kebetulan itu jatahnya Sleman,” ungkap Sutiasih belum lama ini.

Pemberangkatan transmigrasi terakhir dilakukan pada 2019. Menyasar 13 Kartu Keluarga (KK). Dengan tujuan terbesar di Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara dan Mamuju Tengah, Sulawesi Barat. Sebelumnya dikatakan, ada 15 KK yang hendak melakukan transmigrasi tahun ini. Rencananya mereka akan diberangkatkan November mendatang. Dengan lokasi tujuan di empat provinsi. Yaitu, tiga KK Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat. Lima KK Kabupaten Luwu Timur, Provinsi Sulawesi Selatan, tiga KK Kabupaten Muna, Provinsi Sulawesi Tenggara, dan empat KK Kabupaten Paser, Provinsi Kalimantan Timur.

Kabid Pelatihan dan Transmigrasi Disnaker Sleman Triningdyah Prawesti mengatakan, program transmigrasi ini bertujuan untuk mengurangi kepadatan penduduk dan mensejahterakan warga. Menurutnya, penduduk Kabupaten Sleman semakin padat dan tidak diimbangi dengan kepemilikan tanah. Lambat laun kepemilikan tanah semakin berkurang. “Sehingga Sleman masih memerlukan upaya transmigrasi,” ungkap Triningdyah Praweti beberapa waktu lalu.

Dia menyebutkan, calon transmigran yang hendak diberangkatkan tahun ini, sebagian sudah mendaftar di tahun sebelumny dan ditambahkan mendaftar baru. Awalnya ada 17 KK pendaftar baru. Dan mayoritas memilih Sumatera sebagai sasaran transmigrasi. “Karena lokasi tersebut ditiadakan, sehingga banyak peserta (calon transmigran, red) yang mundur,” ucapnya.

Mengacu pada data-data sebelumnya, Sumatera menjadi jujukan favorit transmigrasi. Sebab, nilai lebih dekat dengan Pulau Jawa. Berbeda dengan Pulau Kalimantan dan Sulawesi dinilai terhalang jauh dengan laut. Pemicu lainnya, sudah banyak penduduk Sleman yang diberangkatkan ke Sumatera. Rata-rata sukses sehingga mengajak kerabatnya di Sleman turut menjejaki langkahnya. Kalau dinilai secara geografis, lokasi transmigran kedua pulau Kalimantan dan Sumatera sama-sama memiliki lahan yang subur untuk lahan perkebunan. Sedikit bedanya, di Kalimantan masih terdapat jalan yang melewati rawa-rawa.

Nah, di sana (lokasi transmigrasi, red), setiap transmigran diberikan masa pembinaan atau monitoring selama lima tahun. Lalu mereka mendapatkan rumah dan lahan pekarangan seluas seperempat hektare (Ha). Mereka juga diberikan lapangan pekerjaan dan tempat usaha. “Pekerjaan utama yaitu bertani,” ucapnya.

Staf Pemeriksa Ketransmigrasian Disnaker Sleman Deni Indriastuti menambahkan, beberapa wilayah kabupaten Sleman mulai kekurangan lahan tinggal sehingga setiap tahunnya menjadi langganan kantong transmigran. Yaitu, di Kapanewon Turi, Tempel, Kalasan, Ngemplak, Cangkringan, Berbah dan Prambanan.

Dia mencontohkan, di Prambanan misalnya. Jika dilihat dari kepadatan penduduk, belum cukup padat. Tanahnya juga masih luas. Tapi berdasarkan informasi di beberapa desa, tanah itu merupakan tanah peninggalan turun temurun. Namun secara kepemilikan warga setempat, tanahnya berkurang. “Kalau lahan pertanian di lokasi transmigrasi rata-rata untuk tanaman keras seperti kopi dan lada. Para tranmigran lebih di dorong dalam meningkatkan ketahanan pangan,” imbuhnya. (mel/pra)

Sleman