RADAR JOGJA – Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri melakukan pemusnahan barang bukti hasil pengungkapan produksi dan obat berbahaya jaringan Jawa Barat, DKI Jakarta, DIJ, Jawa Timur dan Kalimantan Selatan, kemarin (15/10). Barang bukti tersebut berupa 48.188.000 butir dalam bentuk obat jadi dan sebanyak 8.465 kilogram dalam bentuk bahan baku hasil penggerebakan pabrik ilegal di DIJ.

Wadir Tindak Pidana Narkoba (Wadirtipidnarkoba) Bareskrim Polri Kombes Pol Jayadi mengungkapakan, barang bukti tersebut merupakan hasil penindakan di dua tempat kejadian perkara di Gudang Pabrik Kasihan, Bantul dan Gamping, Sleman beberapa waktu lalu. Menurutnya, pemusnahan barang bukti ini merupakan bagian yang tidak bisa terpisahkan kolaborasi Direktorat Tindak Pidana Narkoba dengan Polda DIJ. Sehingga berhasil mengungkap jaringan peredaran obat ilegal yang meliputi beberapa provinsi ini.”Barang bukti dimusnahkan di dua lokasi, sebagian kecil menggunakan incenerator di halaman Gedung Promoter Mapolda DIJ dan sebagian besar dimusnahkan di Kota Semarang,” ungkap Jayadi dalam jumpa pers ungkap kasus pemusnahan obat ilegal di halaman Gedung Promoter Mapolda DIJ, kemarin (15/10).

Pemusnahan dilakukan di Kota Semarang, lantaran fasilitas pengolahan limbah di DIJ belum dapat cukup memadahi. Nantinya, Polda DIJ juga akan mengawal memastikan pengiriman barang bukti sampai ke tujuan dalam keadaan aman hingga pemusnahannya berlangsung. ”Sehingga tidak ada deviasi atau kebocoran terhadap barang bukti yang cukup banyak ini,” katanya.

Polisi menetapkan 23 tersangka dan kini ditahan di Bareskrim Mabes Polri. Tersangka ada yang sebagai aktor intelektual, penyuplai bahan baku, ada yang berperan sebagai penanggung jawab pabrik dalam memproduksi obat-obat ilegal. Kemudian polisi juga mengamankan distributor jaringan dari kota-kota lain.

Berkas perkara hasil penangkap jaringan obat ilegal ini sesegera mungkin akan diselesaikan dan akan dilimpahkan ke Kejaksaan Jogja. Sehingga proses persidangannya sesegera mungkin dilaksanakan. Menurutnya, pemusnahan obat ilegal sebagai upaya edukasi masyarakat sekaligus bukti pertanggungjawaban atas penanganan kasus terhadap penyelidikan TKP.

Dilokasi yang sama, Kepala Balai Besar POM DIJ Dewi Prawitasari mengatakan, obat-obatan ilegal ini sudah dicabut ijin edarnya. Obat-obatan ini bila disalahgunakan akan menimbulkan efek samping, mempengaruhi sistem syaraf pusat. Mempengaruhi perilaku pengguna. Dan bila dikonsumsi dalam waktu lama bagi pengguna akan memiliki perasaan ingin bunuh diri. ”Memberikan efek uforia dan merasa senang terus menerus,” bebernya. (mel/pra)

Sleman