RADAR JOGJA – Budaya konsumtif terhadap pangan harus mulai dikontrol. Artinya, masyarakat jangan boros pangan. Mengingat alih fungsi lahan semakin meningkat.

Plt Kepala Dinas Pertanian Pangan dan Peternakan (DP3) Kabupaten Sleman Suparmono mengatakan, saat ini kondisi alih fungsi lahan relatif naik. Perlahan bangunan semakin meluas, sementara lahan mengalami penyempitan. Ditambah, seiring meningkatnya jumlah penduduk, maka kebutuhan pangan juga semakin naik.

Kalau hanya mengandalkan peningkatan produktivitas pangan maka tidak akan mencukupi. Apalagi setiap tahunnya, Kabupaten Sleman terus mengalami penurunan lahan aktif sawah 0,08 persen. Meski luas pekarangan naik sekitar 0,12 persen beberapa tahun terakhir. Sementara Indonesia berada di posisi nomor dua dari negera negara di dunia yang tercatat sebagai negara boros pangan, setelah Arab Saudi.

Oleh sebab karena itu, menjadi penting dalam mengontrol pangan dari segi budaya konsumsi. Salah satunya menekankan budaya agar warga Sleman tidak boros pangan. Hal ini patut di antisipasi. Tidak hanya dalam segi peningkatan sisi produksi tetapi juga dari sisi konsumsinya. “Produksi pangan harus jalan, tetapi tidak untuk foodwaste. Makanan yang siap konsumsi tapi terbuang begitu saja,” ungkap Pramono belum lama ini.

Menurutnya, apabila kondisi ini dibiarkan dan berjalan terus menerus maka diprediksi pada 2032-2033 ke depan, Sleman akan devisit pangan. Terutama untuk beras. Setiap tahunnya masih surplus 70 ribu ton. Tetapi hal ini tidak baik-baik saja. Karena tidak sebanyak beberapa waktu lalu yang surplusnya mencapai 107 ton.

Dia mencontohkan perilaku boros pangan yaitu dengan menyisakan makanan sehari-hari. Gambarannya, 1 kilogram beras ada 50 ribu butir. Bila orang Sleman sekali makan menyisakan satu butir nasi saja, dan dikalikan tiga dalam sehari, sama halnya sudah membuang pangan sekitar 24,7 ton setahun.

Oleh sebab itu, bebarengan dengan peringatan hari pangan se-dunia yang jatuh pada 16 Oktober, pihaknya mengajak masyarakat Sleman membuat gerakan baru, stop boros pangan. “Dimulai dari diri sendiri,” ajak Pram mantan Panewu Cangkringan itu.

Sebelumya, Bupati Sleman Kustini Sri Purnomo mengajak masyarakat Sleman untuk lebih peduli dan mengoptimalkan lahan pekarangan. Bagi warga yang memiliki lahan luas, dapat dimanfaatkan untuk menanam buah-buahan dan sayuran. Tak terkecuali di lahan pekarangan sempit.

Dengan adanya pendampingan dari DP3 Sleman, berkerjasama dengan kelompok tani dan kelompok wanita tani di setiap kalurahan bahkan padukuhan. Sleman dapat bergerak bersama dalam pengoptimalan lahan pangan produk pertanian. Termasuk tidak boros pangan. “Sehingga ketahanan pangan tetap terjaga,” katanya. (mel/bah)

Sleman