RADAR JOGJA – Sejumlah orang dalam gangguan jiwa (ODGJ) di Balai Rehabilitasi Sosial Bina Karya dan Laras (RSBKL) Purwomartani, Kalasan, Sleman melakukan perekaman administrasi kependudukan, kemarin (30/9). Kegiatan ini dilaksanakan oleh Dinas Sosial DIJ bekerjasama dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Sleman.

Kepala Dinas Sosial DIJ Endang Padmintarsih mengatakan, kegiatan ini dilakukan agar ODGJ sebagai binaan Dinsos DiJ mendapatkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), kartu tanda penduduk (KTP) dan kartu keluarga (KK) yang nantinya akan digunakan dalam administrasi kependudukan.  Sehingga pelaksanaan pelayanan kesejahteraan sosial (kesos) tepat sasaran dan tepat manfaat.

”Minimal memiliki NIK, sehigga dapat mengakses semua bantuan kesos,” ungkap Endang di Balai RSBKL, Purwomartani, Kalasan, Sleman, kemarin (30/9).

Disebutkan Balai RSBKL merupakan satu dari enam balai binaan Dinsos DIJ. Setelah perekaman administrasi kependudukan ini selesai dilanjutkan ke Balai binaan lainnya, yakni, balai penanganan anak, gelandangan dan pengemis, lansia dan lainnya. Dengan total binaan di enam balai sebanyak 1.350 orang tersebar di DIJ. ”Targetnya, perekaman NIK selesai tahun ini,” bebernya.

Kepala Balai RSBKL Hinukoro Aji mengatakan, dari 250 total ODGJ binaan, sebanyak 142 belum memiliki NIK. Sehingga mereka selama ini tidak mendapatkan akses bantuan sosial. Mereka yang belum memiliki KTP hanya ditopang untuk pengobatan. Anggarannya ditopang melalui anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). ”Mereka mendapatkan jaminan kesehatan sosial (Jamkesos) selanjutnya mendapatkan pelayanan kesehatan di Rumah Sakit Jiwa Grhasia (Kalurahan Pakembinangun, Pakem),” ungkap Hinu dilokasi yang sama.

Semua ODGJ di balai ini telah mendapatkan dua kali vaksinasi. Kendati berikutnya ODGJ yang belum meiliki kelengkapan administrasi kependudukan diminta mengurus NIK untuk pendataan vaksinasi. Sehingga mempercepat kerjasama dengan Disdukcapil dalam hal ini.

Disebutkan, mayoritas ODGJ berasal dari luar DIJ. Mulai dari Aceh, Palembang, Lampung, Banten DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah hingga terjauh Merauke. Mereka mayoritas ditemukan di DIJ. Dengan latar belakang masing-masing. Ada karena faktor keturunan, stres yang berkelanjutan dan lainnya.

”Nah, bagi mereka (ODGJ) yang belum diketahui alamatnya, sementara menggunakan alamat Balai RSBKL ini. Barulah setelah ditemukan dan dikembalikan ke keluarganya, kami minta membuat KTP baru, KTP dari sini dicabut,” bebernya.

Pelaksanaan perekaman KTP ini dilaksanakan secara bertahap. Satu hari dibagi menjadi tiga kloter. Tiap kloternya 10 orang. Kegiatan dilaksanakan dengan berhati-hati. Dengan protokol kesehatan yang ketat. (mel/bah)

Sleman