RADAR JOGJA – Kelompok Tani (Klomtan) Sari Manggala di Padukuhan Jurungan, Bangunkerto, Turi, Sleman mencoba hal baru dalam mengembangkan produktivitas pertanian. Mereka mengembangkan pertanian bawang merah lokananta.

Ketua Klomtan Sari Manggala Badriyanto mengatakan, hasilnya potensial. Dalam lahan seluas 2.000 meter persegi, estimasi panen bawang merah dari biji, antara 1,5 ton hingga 1,7 ton. Dengan harga jual per kilogram Rp 15 ribu. ”Nah, khusus bawang merah benih, dalam 1 kuintal bila dirupiahkan sepuluh kali lipat dari harga benihnya,” terang Badri dilokasi panen perdana bawang merah lokananta, Padukuhan Jurungan, Bangunkerto, Turi, Sleman Rabu (29/9).

Keunggulannya, masa panen terbilang cepat, 70 hari sejak penanaman, bawang merah langsung bisa dipanen. Penanaman bawang merah pertama kalinya dilakukan. Dari petani berbasis menanam salak kini beralih ke bawang merah.
”Kami akan budayakan lagi. Sasarannya sekitar 1 hektare lahan petani sekitar (kelompok ini, red) akan didorong mengembangkan varietas ini, untuk dengklotnya terlebih dahulu,” ujarnya.

Nantinya, pihaknya akan menggandeng generasi muda dalam budidaya bawang merah ke depan. Selain itu juga melibatkan kelompok wanita tani (KWT) sekitar dalam promosi penjualan.

Sutrisno, petani lainnya mengungkapkan, bawang merah menjadi tanaman pendukung karena dapat ditumpangsarikan dengan tanaman lainnya. Seperti tanaman cabai dan melon. Dengan penanaman berbasis agen hayati ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas bawang merah. Didukung dengan irigasi yang baik di lahan tersebut.

”Adapun agen hayati yang digunakan seperti tricoderma untuk jamur, batrece celious untuk bakteri, dan lainnya,” terangnya.
Dalam pengembangan bawang merah ini, pihaknya melibatkan kelompok wanita tani dan generasi muda. Adanya potensi ini diharapkan antusias generasi muda untuk kembali bertani, tinggi.

Dalam kunjungannya, Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa mengatakan, di Kabupaten Sleman mulai tumbuh potensi-potensi penanaman bawang merah. Selain di lokasi, seorang petani di Kapanewon Klasan juga telah mengembangkan pertanian bawang merah bibit lokananta.

Dikatakan, berdasarkan problem yang kerap kali dihadapi petani, yakni masalah bibit. Sebelum ada bibit dari biji, bibit harus didatangkan dari luar Sleman. Pun harganya mahal. ”Dengan membuat bibit dari lokananta, kalau panen disisihkan berapa persen untuk bibit. Diharapkan dapat meningkatkan potensi tanaman bawang merah di Sleman,” bebernya.

Danang mengajak petani berdoa dan berharap. berdoa agar hasilnya bagus dan harapannya ketika panen, harganya mahal. Dengan semangat ini, diharapkan ke depannya Kabupaten Sleman dapat menjadi wilayah penghasil bawang merah di DIJ selain Bantul. ”Semoga semangat ini bisa berkembang dan menularkan petani di sekitarnya,” ungkap Danang. (mel/bah)

Sleman