RADAR JOGJA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman berupaya merampingkan dan melakukan efiensi terhadap fasilitas penanganan Covid-19. Baik di rumah sakit (RS) penanganan Covid-19 maupun di isolasi terpadu (isoter) yang di kelola Pemkab Sleman. Hal itu dikarenakan semakin menurunnya pasien Covid-19 di Sleman.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Cahya Purnama mengatakan, pemanfaatan isoter masyarakat saat ini semakin minim. Pihaknya berencana melakukan perampingan. Untuk efisiensi, rencannya akan ada pengurangan dari empat shelter isoter, Asrama Haji, Rusunawa Gemawang, Asrama Universitas Islam Indonesia (UII) Jogjakarta dan Asrama Universitas Aisyiyah (Unisa) Jogjakarta. ”Selain itu juga akan diefisiensikan tenaganya,” jelas Cahya Selasa (28/9).
Sedangkan untuk bed occupancy rate(BOR) RS, waktu terjadi lonjakan diperintahkan 40 persen tempat tidur. Sekarang, karena kasusnya turun bisa dikecilkan.

Di RSUD Sleman misalnya. Bila sebelumnya tempat tidur untuk Covid-19 80 bed, dan empat bangsal dijadikan bangsal Covid-19 maka dikecilkan kuotanya manjadi satu bangsal. Sebab, penderitanya di bawah 10 pasien. ”Bangsal lainnya dialihkan menjadi bangsal umum lagi,” terangnya.

Untuk fasilitas kesehatan, seperti oksigen dan lain-lain tidak ditarik. Sebab, meski jumlah bed dikurangi, sebagai upaya antisipasi apabila sewaktu-waktu terjadi ledakan Covid-19. ”Zona merah ruangan bisa dialihkan menjadi zona hijau. Jika terjadi ledakan bisa dikembalikan lagi menjadi zona merah,” kata mantan direktur RSUD Sleman ini.

Lalu bagaimana dengan RS Darurat Khusus Penanganan Covid-19 (RSDKPC) dan isoter? Cahya menambahkan, RSDKPC Sleman masih dalam pengkajian apakah dilakukan efisiensi. Termasuk isoter. ”Untuk tenaga kesehatan pelayanan Covid-19 dialihkan untuk vaksinasi,” jelasnya.

Kepala RSDKPC Sleman dr Tunggul Birawa mengatakan, kondisi RS darurat ini sudah tidak ada pasien. Disebutkan, pasien kosong sejak 24 September lalu. Untuk produksi oksigen juga sudah dihentikan lantaran kebutuhan oksigen saat ini sudah mencukupi. ”Kalau jumlah bed-nya ada 45,” terangnya.

Terpisah, Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Makwan mengatakan, saat ini jumlah pasien dirawat di isoter hanya tiga orang. Satu pasien di Asrama UII dan dua orang di Rusunawa Gemawang. Disinggung terkait, penonaktifan sementara isoter, pihaknya belum mendapatkan laporan resmi.

Terkait efisiensi, jelasnya baru akan dilakukan koordinasi. Kendati begitu, kerjasama kontrak sudah dilakukan hingga Desember mendatang. ”Kalau Unisa tidak menggunakan kontrak. Karena kalau satu orang isolasi di sana, kami (Pemkab, red) bayar Rp 200 ribu per orang selama 10 hari isolasi,” pungkasnya. (mel/bah)

Sleman