RADAR JOGJA – Hasil riset indeks persepsi perempuan terhadap kasus korupsi di Indonesia, yang digelar Indonesia Corruption Research (ICR), menunjukkan hasil mengejutkan. Dari 1.171 perempuan di 34 provinsi di Indonesia, 46 persen di antaranya menyebut korupsi merupakan hal yang biasa.

“Ketika kami tanyakan, ‘Apakah korupsi merupakan hal yang biasa?’ 46 persen responden menjawab korupsi hal yang biasa,” kata Koordinator ICR Astri Wulandari dalam konferensi pers survei persepsi perempuan terhadap kasus korupsi di Indonesia, di Bale Merapi Selasa (28/9).

ICR merupakan tim kolaborasi akademisi dari Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) bekerjasama dengan Fakultas Komunikasi & Bisnis Telkom University Bandung.

Astri menjelaskan, survei dilakukan selama delapan bulan terhadap 1.171 perempuan dari 34 provinsi. Rentang usia 17 tahun sampai 45 tahun dengan pekerjaan beragam, mulai dari mahasiswa hingga ibu rumah tangga.

Metode survei dilakukan dengan membagikan kuesioner secara daring.  Menurut dia, anggapan korupsi sudah biasa berdasarkan pengalaman sehari-hari. Seperti di lingkungan kerja, instansi pemerintah atau lokasi yang biasa didatangi. “Tak melulu korupsi besar yang ditangani KPK, tapi tindak koruptif di sekitarnya, seperti pungutan liar,” ucap Astri Wulandari.

Astri yang juga pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi dan Multimedia UMBY menambahkan, riset ini memiliki tujuan untuk mendalami lebih jauh bagaimana perempuan di Indonesia mau dan mampu untuk melihat, mendengar dan mendiskusikan masalah korupsi yang telah mengakar di Indonesia ini.

Riset juga berusaha melihat apakah ada minat dan kepedulian dari para perempuan di Indonesia terhadap kasus-kasus korupsi yang masih marak sampai sekarang ini. “Riset ini juga berusaha untuk mengetahui bagaimana peran perempuan dalam gerakan dan pendidikan anti korupsi, terutama di lingkungan sekitar, mulai dari keluarga, lingkungan kerja, sampai lingkungan masyarakat yang lebih luas,” kata Koordinator ICR Astri Wulandari.

Koordinator riset ICR dari Telkom University Bandung,  Catur Nugroho menyebut, hasil survei memang menunjukkan hasil yang mengejutkan. Di antaranya responden yang menerima gratifikasi dan tidak melaporkannya sebesar 5,6 persen, 2,7 persen responden pernah menerima suap, dan 4,9 persen responden pernah melakukan pungutan liar.

Begitu pula ketika diberikan pertanyaan apakah keluarga responden pernah melakukan korupsi, ternyata 4 persen responden menyatakan keluarga mereka ada yang melakukan korupsi. “Hasilnya memang mengejutkan, tapi kami senang karena responden berani jujur,” ujar Catur Nugroho.

Sebagai rekomendasi, pihaknya berharap pemerintah dan KPK  mampu membuat kampanye antikorupsi secara massif ke seluruh lapisan masyarakat, dan tidak hanya melalui komunitas-komunitas tertentu.

Pendidikan antikorupsi harus diberikan sejak dini kepada generasi penerus agar sikap dan perilaku jujur dapat tertanam dengan baik. “Perempuan, khususnya ibu, punya peran besar untuk pendidikan antikorupsi di keluarga, seperti mengajarkan budaya antre di tempat umum,” kata Koordinator riset ICR dari Telkom University Bandung Catur Nugroho. (om4/sky)

Sleman