RADAR JOGJA – Anak bajang rasanya sudah mengayun bulan. Sebentar lagi mendekap citanya. Begitulah kiranya, sambungan cerita Anak Bajang Mengayun Bulan karya Romo Sindhunata, 40 tahun silam.

Kini karya-karya tersebut semakin bergelora. Manis. Di dalam Museum Anak Bajang, Omah Petruk, Dusun Karangkleka, Wonorejo, Pakem, Kabupaten Sleman. Museum Anak Bajang diresmikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan RI Hilmar Farid melalui penandatanganan prasasti, Senin (27/9).

Sindhu menjelaskan, istilah anak bajang mengandung filosofis. Figur anak bajang representasi figur orang yang tidak sempurna, disia-siakan tetapi terus berjuang. Kemudian dalam seri lanjutan cerbung yang dikemas dengan Festival Anak Bajang ini, Sindhu merepresentasikan buruknya dunia karena ”ditelanjangi” pandemi. Dan diberi tajuk Anak Bajang Menggiring Angin. Nah ini tertampung pada figur anak bajang.

”Ini juga suatu kebetulan, saya pikir ini yang memberi warna pada museum ini,” ungkap Pendiri Omah Petruk sekaligus penulis Romo Sindhunata di sela kegiatan, kemarin (27/9).

Omah Petruk menjadi tempat berkumpul dari kalangan apapun. Tempat berkesenian dengan latar belakang apapun mengikuti kesenian tradisi, keterlibatan banyak orang dan intelektual. ”Nantinya tempat ini sebagai ruang belajar. Kampus merdeka istilahnya,” imbuhnya.

Museum memiliki lebih dari 500 objek koleksi. Sebanyak 1.500 properti seni dan budaya, berupa benda display berada di dalam dan di luar ruang. Koleksi dan properti adalah sumbangan dari sekitar 100 seniman seniwati di seluruh Indonesia.

Lebih lanjut dijelaskan, Omah Petruk yang berdiri di atas lahan seluas hampir 2 hektare ini, terdiri dari enam bangunan. Antara lain, Kompleks Asrama Anak Bajang, Kompleks Pakujagan, Sanggar Pamujan, Kompleks Panyarikan, Kompleks Omah Petrok, dan Sekolah petrok.

Sindhu mengatakan, keberadaan Museum Anak Bajang menjadi suatu kebetulan sekaligus buah perjalanan panjang. Dulunya, lokasi ini masih rimba. Lalu pelan-pelan berkembang, sesuai kemampuan dan kebaikan banyak orang. Termasuk keprihatianan para seniman sehingga menyumbangkan karya-karyanya. Mulai dari karya candi, hingga akhirnya menjadi tempat multi kultural. Multi agama. ”Karena terdapat berbagai tempat ibadah dari berbagai agama di Indonesia,” terangnya.

Direktur Jenderal Kebudayaan RI Hilmar Farid memberikan apresiasi proses pendirian museum ini. Museum ini dapat menjadi wadah ruang ekspresif bagi seniman, pelaku budaya maupun publik atau masyarakat sekitar. Menurutnya, koleksi museum ini menarik dan berkesan. Merupakan arsip proses perjalan Romo Sindhunata dengan berbagai kalangan. ”Konstribusinya bagi kebudayaan begitu besar,” bebernya.

Disinggung terkait festival di tengah PPKM, Hilmar menjelaskan, pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) DIJ masih di level 3. Kendati begitu kegiatan kesenian dapat dilakukan. Asal kegiatan ini digelar di ruang terbuka dan dengan protokol kesehatan (prokes) yang ketat. ”Ada kemungkinan kumpul-kumpul walaupun terbatas. Kegiatan ini dapat sebagai contoh. Dengan prokes ketat. Berharap dari itu kegiatan kebudayaan dapat bergulir,” tandasnya.

Keberadaan Omah Petruk diharapkan menjadi energi baru bagaimana mendekatkan kebudayaan terutama budaya tradisi bagi generasi muda dengan cara yang asik. (mel/bah)

Sleman