RADAR JOGJA – Setelah Wisata Tebing Breksi dibuka, kini giliran Merapi Park dilakukan uji coba. Wisata alam sekaligus wisata edukasi yang berlokasi Padukuhan Banteng, Hargobinangun, Pakem, ini mulai dibuka kemarin (23/9).

“Kami sudah mengantongi sertifikat CHSE dan telah menyiapkan barcode akses PeduliLindungi,” ungkap Komisaris Merapi Park Bambang Utomo saat uji coba pembukaan Merapi Park kemarin (23/9).

Setiap pengunjung wajib melakukan scan di barcode yang tertera. Selain itu juga menjalankan protokol kesehatan (prokes) sebagaimana mestinya. Dimulai mengukur suhu badan mencuci tangan dan baru diizinkan masuk.

Sesuai aturan pemerintah, pengunjung hanya diperbolehkan bagi usia di atas 12 tahun. Meski konsep utama Merapi Park merupakan wisata edukasi bagi anak-anak, menurutnya tempat wisata ini juga menarik dikunjungi orang dewasa. Karena suasananya asri, tempat santai luas dan dibubuhi pemandangan moleknya Gunung Merapi.

“Nantinya pengawasan prokes terhadap pengunjung kita lakukan. Tapi saya rasa tempat ini cukup luas, tidak sampai kerumun,” ungkap Bambang.
Disebutkan, luasan objek wisata ini 10 hektare. Dengan bangku santai tersebar di banyak titik. Meski demikian, untuk wisata air (kolam renang) sementara ini belum dibuka. Menunggu instruksi pemerintah.

Pengunjung nantinya juga dibatasi 25 persen per hari. Atau sekitar 2.000 orang.  Kendati dalam situasi pandemi Covid-19, dengan 1.000 pengunjung saat weekend saja sudah bersyukur. Untuk provider internet, di lokasi ini cukup baik. Didukung fasilitas wifi diharapkan pemanfaatan aplikasi PeduliLindungi berjalan optimal.

Ada 40 pegawai yang bekerja di obwis ini, termasuk bagian kuliner.  Semua pegawai sudah tervaksin. Nah, untuk menunjang kunjungan pasca Covid-19 mereda dan pemulihan ekonomi perlahan bergerak, pihaknya telah menyiapkan wahana baru di lokasi obwis. Yakni, zona Jurassic Park  tempo dulu dengan miniatur Dinosaurus tiga dimensi. Bisa bergerak dan mengeluarkan suara. Selain itu juga akan disiapkan taman bunga, koleksi bunga-bunga Nusantara.

Dia berharap setelah pembukaan, pengunjung semakin banyak. Menikmati wisata di Merapi Park dengan aman dan nyaman. Juga memberikan efek pendapatan asli daerah (PAD). Ekonomi tumbuh di lingkungan masyarakat sekitar. Untuk pedagang, jasa jip dan lainnya. “Diharapkan ekonomi tumbuh baik,” bebernya.

Pembukaan uji coba wisata Merapi Park dilakukan oleh Wakil Bupati Sleman Danang Maharsa. Danang mengatakan, destinasi wisata Merapi Park sudah memenuhi persyaratan dibuka. Selain mengantongi sertifikat CHSE, Qr Code dan aplikasi PeduliLindungi diharapkan menumbuhkan rasa aman, kepasatian dan kenyamanan pengunjung.

Dia juga menekankan agar wisatawan yang datang ke DIJ dapat mengakses aplikasi Visiting Jogja untuk mengetahui informasi berkaitan dengan pariwisata DIJ. “Untuk memastikan lokasi wisata mana saja yang sudah bisa dikunjungi,” ujarnya.

Di luar Tebing Breksi, Merapi Park dan Candi Ratu Boko, di kabupaten Sleman masih belum diizinkan. Dalam kegiatan ini turut hadir Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) DIJ Singgih Raharjo, Kepala Dispar Sleman Suparmono dan segenap lintas OPD hadir.

Sabar, Jangan Curi Start Buka

Dinas Pariwisata (Dispar) DIJ mengingatkan kepada masyarakat maupun pengunjung wisata bahwa belum semua destinasi wisata di DIJ dibuka. Pembukaan destinasi wisata baru dilakukan di objek wisata (obwis) yang sudah menggelar uji coba. Yaitu, Tebing Breksi, Merapi Park, dan Candi Ratu Boko di Kabupaten Sleman, kemudian Gembira Loka Zoo di Kota Jogja, Hutan Pinus Mangunan, Pinus Pengger dan Seribu Batu di Kabupaten Bantul.

Kepala Dispar Sleman Suparmono mengatakan, uji coba wisata yang dibuka itu berdasarkan aturan pemerintah. Obwis yang dibuka ditunjuk oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf). Karena telah memenuhi persyaratan. Antara lain, mengantongi sertifikat cleanliness health savety dan environment (CHSE), seluruh pengelola sudah tervaksin, memiliki QR Code untuk mengakses PeduliLindungi, dan obwis berbasis outdoor (alam terbuka).

“Untuk yang curi start ini tidak kita benarkan. Kita taati aturan pemerintah lah,” ungkap Pram, sapaannya. Dia meminta pengelola wisata lainnya untuk lebih bersabar. Sembari mempersiapkan diri melengkapi persyaratan ijin buka.

Uji coba pembukaan wisata ini tidak dilakukan serentak. Melainkan secara bertahap, sehingga dia menekankan kepada pengelola pariwisata agar tidak mencuri start buka. Sebab, semua harus melalui prosedur. Selain CHSE dan fasilitas prokes juga seluruh pengelola harus sudah tervaksin. “Kami dorong semua obwis punya sertifikat CHSE dan sesuai prokes,” tutur Pram.

Menurutnya, untuk memastikan pembukaan pariwisata berjalan lancar, pihaknya juga akan melakukan pengawasan terhadap obwis lainnya. Pihaknya bersama Satgas Pariwisata dari kabupaten hingga kementerian secara rutin melakukan monitoring. Selain pada obwis yang melakukan uji coba, pantauan juga dilakukan secara menyeluruh. “Kalau ada satu dua yang buka, ya kami akan berikan teguran, jangan buka dulu,” tegasnya.

Disebutkan, dari 200 lebih obwis di Kabupaten Sleman, baru 128 objek yang tercatat mengantongi sertifikat CHSE. Kendati begitu, mayoritas dimiliki hotel. Dan sebagian kecil pada obwis. Sementara di DIJ ada 300-an lebih objek yang baru mengantongi CHSE. “Sleman paling banyak yang kantongi CHSE,” bebernya.

Kepala Dispar DIJ Singgih Raharjo menambahkan, bagi pengelola wisata agar segera mempersiapkan diri mengurus persyaratan izin buka pariwisata. Sehingga bila sewaktu-waktu pemerintah mengizinkan buka wisata dengan syarat dan prosedur semestinya, tempat wisata siap. “Kita dorong segera mengurus sertifikat CHSE. Pengurusan CHSE selambat-lambatnya akhir September ini,” katanya. (mel/laz)

Sleman