RADAR JOGJA- Museum Anak Bajang menggelar Festival Anak Bajang secara hibrid, Senin (27/9) di Omah Petroek, Wonorejo, Hargobinangun, Pakem, Sleman. Festival Anak Bajang terdiri dari enam rangkaian acara, yaitu peresmian Museum Anak Bajang oleh Direktur Jendral Kebudayaan Kemendikbudristek, perayaan 40 tahun Anak Bajang Menggiring Angin, ditandai dengan peluncuran edisi cetak-ulang,  peluncuran cerita bersambung Anak Bajang Mengayun Bulan, pameran lukisan Sukrosono oleh Susilo Budi, pentas tari oleh sanggar tari Bambang Paningron  pementasan wayang  Sumantri Ngenger oleh Ki Purwoko.

Kepala Museum Anak Bajang, Rhoma Dwi Aria Yuliantri menjelaskan, Anak Bajang merupakan sosok pewayangan yang menjadi tokoh dalam novel Anak Bajang Menggiring Angin pada tahun 1981 yang menggambaran dunia yang buruk rupa, tetapi penuh harapan. Meskipun disingkirkan dan diabaikan karena buruk-rupanya, Anak Bajang menghadirkan keceriaan di tengah situasi putus asa. Anak Bajang selalu berikhtiar mencapai kesempurnaan.

Dunia yang ditelanjangi pandemi, tetapi sekaligus dunia yang penuh harapan akan solidaritas menuju keceriaan baru.  “Pandemi COVID-19 telah menampakkan wajah dunia yang buruk-rupa itu. Namun di tengah serba buruknya dunia akibat pandemi, berkembang harapan. Harapan akan kesembuhan dan kesehatan; harapan akan solidaritas untuk kehidupan yang lebih baik,”ujar Rhoma Dwi Aria Yuliantri.

Rhoma mengatakan dalam festival ini mengajak semua pihak, lebih-lebih pekerja media, untuk tetap tangguh dalam menyebarkan optimisme. Di tengah pandemi, jurnalistik menjadi ujung tombak penyebaran harapan dan keceriaan.

”Festival Anak Bajang menghadirkan sosok Anak Bajang sebagai sumber belajar untuk menerima keadaan, belajar hidup sederhana, belajar untuk bersolidaritas, dan terus memberi meski keadaan terbatas. Festival ini merupakan langkah awal Museum Anak Bajang dalam mendukung program Merdeka Belajar yang dicanangkan Kemendikbudristek,” kata Kepala Museum Anak Bajang, Rhoma Dwi Aria Yuliantri. (sky)

Sleman