RADAR JOGJA –Penerapan aplikasi PeduliLindungi sebagai syarat masuk objek wisata rupanya mengalami kendala. Ketua Pengelola Taman Tebing Breksi, Kholik Widianto mengakui sinyal seluler masih menjadi kendala di Tebing Breksi. Walau begitu pihaknya telah menyiapkan fasilitas WiFi. Fungsinya untuk mempermudah proses check-in di pintu masuk.

Kholik menuturkan WiFi tersebar di seluruh area Tebing Breksi. Selain menambah titik pemasangan alat juga menambah kuota bandwidth. Harapannya tetap optimal digunakan saat pengunjung mulai ramai.

“Untuk masalah kekuatan jaringan internet kami siasati dengan penambahan pemancar WiFi area tiket sampai lapangan kuat. Tambah bandwith juga. Semua fasilitas ini dari kami,” jelasnya ditemui di pintu masuk Tebing Breksi, Kamis (16/9).

Walau begitu ketersediaan WiFi tak terlalu kuat. Perlu menunggu waktu saat memasuki aplikasi Peduli Lindungi. Untuk kemudian menggunakan fitur pindai QR Code Peduli Lindungi.

Kholik memberikan tips agar penggunaan aplikasi lancar. Dia menyarankan agar pengunjung terlebih dahulu mengunduh aplikasi sebelum memasuki Breksi. Tujuannya agar waktu tunggu tidak terlalu lama.

“Lebih baik download terlebih dulu sebelum sampai Breksi. Karena kalau instal disini perlu kode verifikasi dari SMS. Masalahnya SMS ini pakai jaringan seluler. Meski WiFi ada tapi enggak ngaruh juga,” katanya.

Setiap pengunjung yang datang, lanjutnya, wajib check-in aplikasi Peduli Lindungi. Persyaratan lain adalah usia diatas 12 tahun dan tak lebih dari 70 tahun. Seluruhnya akan diperiksa di pintu masuk sebelum pembayaran tiket.

Pihaknya juga menyiagakan petugas pendamping. Perannya membantu pengunjung yang belum mengunduh aplikasi Peduli Lindungi. Termasuk mengarahkan pengisian data sesuai nomor induk kependudukan masing-masing.

“Ada kelemahan lain, apabila sistem operasi handphone tidak support. Seperti OS dibawah 6. Itu tidak ada fasilitas scanner. Lalu pengunjung yang tidak punya android juga tidak bisa scan,” ujarnya.

Terkait fungsi aplikasi Peduli Lindungi diakui olehnya tak ada masalah. Aplikasi ini justru membantu menentukan kondisi kesehatan pengunjung. Apabila indikator berwarna hijau dan kuning boleh berkunjung. Namun jika merah dan hitam akan ditolak.

Pengelola Tebing Breksi juga menggunakan aplikasi Visiting Jogja. Aplikasi milik Dinas Pariwisata DIJ ini berfungsi sebagai pendataan pengunjung. Selain itu juga melakukan reservasi sebelum berkunjung ke lokasi wisata.

“Ya jelas ribet karena 2 aplikasi, tapi kami sudah gunakan Visiting Jogja sejak Juli 2020, sudah terbiasa. Cuma harapan saya pengelola tidak menyediakan barcode tapi kami yang scan agar lebih cepat. Ini kayak thermogun, kami keliling scan dengan alat,” katanya.

Kholik menjelaskan Tebing Breksi memiliki kapasitas 15 ribu pengunjung. Luas destinasi wisata ini mencapai 7 hektar. Sehingga pengunjung dapat tersebar di seluruh wilayah. Alhasil dapat mencegah munculnya kerumunan.

“Uji coba ini kapasitas 25 persen untuk suatu waktu, sekitar 3.000 lebih. Kalau scan (QR Code) hanya sebentar. Cuma yang lama itu yang belum instal. Membutuhkan waktu 10 menit, mulai dari daftar dan masukan data pribadi,” ujarnya. (dwi/sky)

Sleman